Tuna Indonesia Terancam Punah dalam 3-10 Tahun

Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) menilai penangkapan tuna di Indonesia sudah berlebihan. Bila dibiarkan, beberapa jenis tuna akan punah dalam 3-10 tahun.

Penangkapan dan pencurian ikan berlebihan mengakibatkan spesies tuna di perairan Nusantara terancam kepunahan. Persoalannya, bagaimana menemukan titik tengah antara kepentingan industri dengan konservasi.

Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) menyimpulkan tuna di Indonesia sudah ditangkap secara berlebihan (overfishing). Memang Indonesia merupakan produsen tuna terbesar dunia, 16 persen kebutuhan tuna dunia berasal dari Indonesia.

Namun, bila tren overfishing berlanjut, IOTC memprediksikan dalam tiga sampai 10 tahun tuna sirip kuning atau yellowfin dan cakalang terancam punah. Padahal, kontribusi tuna terhadap ekspor produk perikanan Indonesia terbilang besar. Sepanjang 2015, ekspor tuna Indonesia mencapai hampir US$500 juta atau sekitar Rp 6,7 triliun.

Kajian University California, Santa Barbara (UCSB) dan Balitbang Kelautan dan Perikanan menyimpulkan, jika eksploitasi berlebihan (tidak hanya tuna, tapi juga seluruh komoditas perikanan) terus dibiarkan, biomassa ikan di perairan nusantara akan anjlok hngga 81 persen pada tahun 2035.

“Bila itu terjadi, maka juga berdampak pada hilangnya sumber pendapatan,” kata Jeany Hartriani, periset Katadata Research dalam diskusi publik dengan tema “Tuna Indonesia dalam Ancaman Kepunahan” yang diselenggarakan oleh Katadata di Jakarta, Jumat, 17 Februari 2017.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan upaya pengendalian penangkapan ikan berlebihan dengan sejumlah strategi, salah satunya dengan memerangi Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga melakukan moratorium izin kapal ikan eks-asing dan larangan pemindahan muatan di laut atau transshipment.

Namun, kebijakan Menteri Susi menuai protes dari pengusaha penangkapan ikan. Terakhir, pada Oktober 2016, ratusan kapal penangkap ikan tuna di Bali mogok melaut. Mereka memprotes larangan transshipment oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Di sisi lain, Sekjen Asosiasi Tuna Indonesia, Hendra Sugandhi mengatakan kebijakan pemerintah selama dua tahun terakhir berdampak negatif bagi industri. Dampak dari kebijakan IUU Fishing yang paling berpengaruh terhadap industri perikanan adalah menyusulnya jumlah kapal tangkapan ikan.

“Per tanggal 12 Februari (2017) datanya ada 1782 kapal berbendera Indonesia lenyap. Itu yang menurut saya tahap dekonstruksi. Bukan masalah tuna yang lenyap, karena dia migratory fish. Tapi ini masalah kedaulatan kita di laut lepas terancam punah di tiga RFMO (Regional fisheries management organizations),” katanya.

 

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *