Swasembada Garam Perlu Perhatikan Sektor Industri

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan bahwa keinginan pemerintah untuk mencapai swasembada garam pada tahun 2017 perlu memperhatikan sektor Industri yaitu salah satunya industri makanan dan minuman yang secara mutlak membutuhkan bahan baku garam untuk produksi.Panggah di Jakarta, mengungkapkan jika industri makanan dan minuman tidak terlepas dari kebutuhan garam, meskipun kebutuhannya tidak banyak namun mutlak dibutuhkan. Untuk itu pihaknya berharap agar pemerintah bisa duduk bersama dengan industri makanan dan minuman untuk berdiskusi agar tidak mengganggu keberlangsungan industri.

Panggah berpendapat bahwa target swasembada garam itu juga perlu digali lebih dalam, artinya perlu perhitungan berapa kemampuan industri garam dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional. Hal tersebut diperlukan agar secara realistis bisa diketahui berapa banyak yang bisa diproduksi di dalam negeri dan berpada banyak yang harus diimpor.

Karena jika diproduksi di dalam negeri sebanyak 100 persen dirasa tidak mungkin, agar jangan sampai dengan biaya yang sangat tinggi dalam memproduksi garam di dalam negeri justru tidak ada yang diuntungkan. Apabila harus ada impor, maka hal itu  akan terkompensasi dengan nilai tambah yang diproduksi di dalam negeri. Kebutuhan impor garam diperkirakan sekitar 300 ribu hingga 500 ribu ton per tahun.

Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mengakui bahwa petani lokal belum mampu memproduksi garam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Pada saat ini produksi garam petani lokal baru bisa digunakan untuk konsumsi dan pengasinan ikan.

Petani garam dalam negeri baru bisa memproduksi garam dengan kandungan NaCL 94 persen atau masih jauh dibawah kebutuhan garam industri yang harus memiliki kandungan NaCL minimal 97 persen.

Pada saat ini luas lahan garam terpasang nasional mencapai 25 ribu hektar dengan produksi rata-rata 1,7 juta ton per tahun, yang terdiri dari kualitas Kw1 sebesar 30 persen, Kw2 sebesar 30 persen dan Kw3 sebesar 40 persen. Garam berkualitas Kw1 berkadar NaCl minimal 94 persen, Kw2 berkadar NaCl minimal 90-93 persen dan Kw3 berkadar NaCl lebih rendah dari 90 persen.

Sementara itu kebutuhan garam untuk Industri Aneka Pangan berkadar NaCl 96 persen dengan Calsium dan Magnesion maksimal 600 ppm, Industri Kimia berkadar NaCl 96 persen, Industri Farmasi berkadar NaCl minimal 99,9 persen dan garam rumah tangga berkadar NaCl minimal 94 persen.

Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan industri, AIPGI mengimpor garam dari Australia sebesar 90 persen dan India sebesar 10 persen. Selain itu AIPGI memperkirakan untuk kebutuhan garam di tahun 2015 ini mencapai 3,3 juta ton, dimana kebutuhan garam industri mencapai 2,1 juta ton dan kebutuhan garam konsumsi sebesar 1,2 juta ton.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *