Sumatera Berpotensi Menjadi Sentra Pasokan Hasil Perkebunan Kelas Dunia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo meghadiri kegiatan Sosialisasi Paket Kebijakan Ekonomi yang bertema “Mewujudkan Wilayah Sumatera Sebagai Sentra Supply Chain Industri Perkebunan Kelas Dunia”, di Medan, Sumatera Utara.

Dalam sambutannya Lukita mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia memproduksi sekitar 44% dari total produksi minyak mentah sawit di dunia. Sumatera menjadi wilayah dengan 5 sampai 6 juta hektare perkebunan kelapa sawit.

Memiliki dua komoditas perkebunan andalan kelapa sawit dan karet, pemerintah menilai Sumatera memiliki potensi besar di sektor perkebunan. Pasalnya juga pulau terbesar ketiga di Indonesia ini dinilai bisa menjadi sentra rantai pemasok industri perkebunan bukan hanya secara nasional, tetapi juga global.

Sumatera juga menjadi habitat penghasil karet alam di dunia (sekitar 28 persen dari produksi karet dunia pada 2010), sedikit di belakang Thailand (sekitar 30 persen). Wilayah Sumatera menghasilkan sekitar  63 persen dari produksi karet nasional.

“Permintaan akan karet alami dan karet sintetik dunia akan terus meningkat signifikan, membuka kesempatan bagi industri berbasis karet alam menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah dan rantai nilai tinggi”, ujar Lukita.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perniagaan Kemenko Perekonomian Edy Putra Irawady mengatakan Sumatera memiliki peluang untuk menjadi supermarket dunia. Namun masih terkendala permasalahan teknis yang belum teratasi.

“Potensinya Sumatera bisa menjadi  supermarket di dunia. Sayangnya belum ada distribusi yang merata, infrastruktur lemah serta kendala konektivitas desa – kota dan pasar global,” kata Edy.

Karena itu, pemerintah terus mendorong konektivitas transportasi dan logistik di wilayah Sumatera. Selain infrastruktur fisik berupa pembangunan 8 ruas jalan tol hingga tahun 2019. Wilayah Sumatera juga sudah dilengkapi dengan akses langsung ke pasar domestik dan pasar global dengan kehadiran Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung dan Bandar Udara Internasional Kualanamu.

Kehadiran Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung yang memiliki konektivitas domestik dan global diharapkan akan mendorong efektifitas dan efisiensi logistik secara menyeluruh bagi produk-produk dan daya saing industri, termasuk hasil industri perkebunan dan menjadikan wilayah Sumatera sebagai sentra rantai pasokan kelas dunia.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *