Sinergitas Kebun Sawit Dengan Tanaman Pangan

Presiden Joko Widodo berencana akan melakukan moratorium untuk lahan kebun kepala sawit. Pengusaha dan masyarakat tidak bisa lagi membuka dan melakukan perluasan areal lahan sawit, tetapi harus bisa meningkatkan produktifvitasnya melalui peremajaan pohon sawit yang kurang produktiitasnya dengan yang baru.

Moratorium sawit sebenarnya sudah dilakukan oleh petani sawit di berbagai daerah, seperti halnya Kelompok Tani Bukit Gambir, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Menurut Ketua Kelompok Tani Bukit Gambir, Abdul Rasyad Saragih, SH, anggotanya telah melakukan pembukaan kebun divisi II yang terbengkalai untuk jadikan kebun sawit.

“Kebun sawit yang sudah di remajakan seluas 20 Ha dengan menggunakan dana APBN yang diperuntukkan bibit kelapa sawit, menumbang tanaman tua dan pagar kawat berduri dengan biaya 360 juta,” ujar Rasyad pada acara Kunjungan Pers Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian 15, April 2016. Bukit Gambir merupakan demplot model kelapa sawit sinergitas dengan tanaman jagung. kacang tanah, semangka dan padi gogo. Tambahnya.
Secara berturut-turut kelompok ini melakukan tumpang sari kelapa sawit dengan komoditas semangka, jagung, kacang tanah dan dilanjutkan dengan padi gogo. Luas lahan Kelompok menurut Rasyad 460 ha dengan jumlah anggota 230 orang, dan masing-masing anggota mempunyai lahan 2 ha yang sudah Sertifikat Hak Milik (SHM).

Rasyad mengatakan peremajaan pohon sawit kini sudah 2,4 tahun dan diharapkan 34 bulan sudah bisa di panen. Selama peremajaan, masyarakat melakukan tumpang sari, yaitu selama sawit belum berproduksi di sela lahan sawit ditanami dengan tanaman palawija dan semangka yang hasilnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini sedang ditanami padi gogo varietas lokal Silampung dan sudah berumur 3 bulan, dan hasil produksinya nanati akan di gunakan untuk kebutuhan petani sendiri.

Kepala Dinas Perkebunan Pasaman Barat, Alfitri Noven mengatakan di perkirakan ada 10.000 Ha lahan sawit di Pasaman Barat lahan yang harus memasuki masa peremajaan/replanting. Bila sudah di replating, produktivitasnya bisa mencapai 4 ton/Ha maka diperkirakan akan mendapatkan 1,4 triliyun. Pasaman Barat terdapat 101 ribu Ha luasan sawit, dan 45 ribu Ha perlu replanting.

Sedangkan Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan petani atau melalui kelompok tani harus melakukan kontak farming dengan pabrik pakan karena kebutuhan untuk pabrik pakan banyak sekali dan bisa dicukupi dari prduktivitas jagung dari tumpang sari tersebut. Harapan permintaan penggantian peremajaan sawit di Pasaman Barat setahunnya bisa 900 ribu sampai dengan 1 juta batang pohon kelapa sawit, dengan perkiraan biaya 1,3 Milyar.

Untuk peremajaan pohon sawit, diharapkan bisa penggunaan benih yang bagus dan bersertifikat sehingga hasil produksinya benar-benar bagus dan petani juga perlu pendampingan dari sektor produksi dari hulu hingga hilir, selain juga perlu dukungan dari Kementrian Pertanian.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *