Rusia Segan Kurangi Produksi, Harga Minyak Terinjak

Rusia Belum Penuhi Komitmen

Saat berita ditulis, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0.2% ke $52.71 per barel, setelah anjlok ke level terendah sejak 9 Februari pada perdagangan sesi sebelumnya. Sementara kontrak berjangka Brent pagi ini belum ditradingkan lagi setelah melorot 2.3% di hari Kamis gegara laporan dari Rusia.

Data Kementrian Energi Rusia menunjukkan bahwa output minyak bulan Februari tetap sama dengan Januari, yaitu pada 11.11 juta barel per hari (bph). Total pemangkasan yang sudah dilaksanakan pun tetap pada besaran 100,000 bph, atau hanya sepertiga dari keseluruhan yang telah dijanjikannya dalam kesepakatan bersama OPEC.

Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, pun mengatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk mengatakan apakah kesepakatan pemangkasan produksi minyak akan diperpanjang lebih jauh setelah kadaluwarsa pada bulan Juni mendatang. OPEC, Rusia, dan negara-negara produsen lain yang tergabung dalam inisiatif pemangkasan output baru akan mendiskusikan kebijakan selanjutnya dalam tiga bulan ke depan.

Penguatan Dolar Ikut Bebani Harga Komoditi

Selain itu, harga minyak tertekan oleh penguatan Dolar. Sebagaimana disampaikan ANZ dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters, “Crude Oil jatuh ke terendah dalam tiga minggu karena penguatan Dolar dikombinasikan dengan kerisauan mengenai kenaikan inventori minyak mentah, mengurangi minat investor.”

Indeks Dolar melesat ke puncak tujuh pekan versus sekelompok mata uang mayor lainnya pada hari Kamis, setelah komentar hawkish dari beberapa pejabat tinggi bank sentral AS, Federal Reserve. Salah satunya, Lael Brainard, mengungkapkan kenaikan suku bunga bisa dilakukan segera. Investor yang mengharapkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat pun ramai-ramai membeli Dolar AS.

Di sisi lain, data pemerintah AS menunjukkan inventori minyak mentah di negeri Paman Sam meningkat untuk pekan kedelapan berturut-turut. Laporan terbaru menampilkan rekor tinggi kumulatif inventori pada angka 520.2 juta barel. Analis dari lembaga konsultasi energi global WoodMackenzie menyatakan bahwa permintaan untuk Gasolin di AS (yang berkontribusi pada sepersepuluh konsumsi minyak global) diperkirakan baru akan memuncak tahun depan, seiring dengan mesin-mesin yang menjadi kian efisien.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *