Proyek Smelter Logam Sebanyak 32, Serap Investasi Sebesar USD 18 Miliar

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memfokuskan program hilirisasi industri berbasis sumber daya alam sebagai upaya untuk memaksimalkan peningkatan nilai tambah di dalam negeri, sehingga mampu mendongkrak kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional. Kebijakan hilirisasi ini juga mampu memperkuat daya saing serta struktur industri nasional sekaligus menumbuhkan populasinya.

Mengutip dari laman kemenperin.go.id, Kamis (2/3) Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan bahwa program hilirisasi industri berbasis sumber daya alam ini dapat pula memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara.

Pembangunan industri smelter di dalam negeri berjalan cukup baik, terutama yang berbasis logam.  Sampai saat ini, masih terdapat 32 proyek smelter logam yang tumbuh dengan perkiraan nilai investasi sebesar USD 18miliar, dengan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 28 ribu orang, yang pembangunannya tersebar di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi.

Putu mengatakan bahwa kelanjutan dari 32 proyek tersebut, sebanyak 20 proyek sudah 100 persen rampung, 9 proyek dalam tahap pembangunan, dan 3 proyek dalam tahap perencanaan. Dari jumlah smelter tersebut, terdapat 22 industri yang telah bergabung dengan Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) dan 75 persen telah beroperasi secara komersial.

Indonesia termasuk dari 10 besar negara di dunia, yang memiliki potensi besar dalam pengembangan industri smelter berbasis logam karena  dengan cadangan bauksit, nikel, dan tembaga yang melimpah. Untuk pengembangan industri berbasis mineral logam khususnya pengolahan bahan baku bijih nikel, saat ini difokuskan di kawasan timur Indonesia. Misalnya, di Kawasan Industri Morowali – Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Bantaeng – Sulawesi Selatan dan Kawasan Industri Konawe – Sulawesi Tenggara.

Kawasan Industri Bantaeng memiliki luas 3.000 hektare yang diperkirakan akan menarik investasi sebesar USD USD 5 miliar atau setara Rp 55 triliun, dengan Harbour Group bertindak sebagai investor. Kawasan Industri Konawe, diprediksi akan menarik investasi sebanyak Rp 28 triliun.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *