Provinsi Lampung memiliki tujuh komoditas unggulan perkebunan

Pemerintah Provinsi Lampung dan jajarannya melaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan Perkebunan untuk melakukan integrasi dan harmonisasi program agar dapat menghasilkan produk yang unggul dan berdaya saing.

Hal ini sejalan dengan keberadaan Provinsi Lampung sebagai salah satu pengekspor komoditas pertanian dan perkebunan dalam arti luas (kopi, lada, karet, kelapa, kakao dan kelapa sawit) yang harus siap saat berada dalam pusaran ekonomi regional Asean.

Dijelaskan Karo Humas dan Protokol Bayana, hal tersebut di sampaikan oleh Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Bidang Ekbang Adeham saat membuka Musrenbang perkebunan di Bandar Lampung.

Selanjutnya Adeham menyampaikan, perekonomian di Provinsi Lampung berbasis pertanian, salah satunya adalah dari sub sektor perkebunan yang telah memberikan kontribusi volume ekspor perkebunan terhadap volume ekspor Lampung sebesar 37,15% dan kontribusi nilai ekspor perkebunan terhadap nilai ekspor Lampung sebesar 67,01%.

Lebih lanjut diuraikan, Provinsi Lampung memiliki tujuh komoditas unggulan perkebunan yaitu lada, kopi, kakao, karet, tebu, kelapa dalam dan kelapa sawit. Khusus untuk komoditas kopi, keberhasilan tiga sentra kopi di Lampung yang telah masuk dalam kategori specialty grade coffe berdasarkan uji cita rasa di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, hendaknya predikat tersebut bisa dimanfaatkan untuk dapat   meningkatkan harga kopi.

Kabag Humas Biro Humas dan Protokol Setdaprov Lampung Heriyansyah menambahkan, kopi yang masuk kategori spesial, bakal mendongkrak harga kopi di tingkat petani hingga 30 persen lebih mahal dari harga biasa. Tiga daerah sentra kopi di Lampung yang mendapat skor tertinggi dalam uji cita rasa tersebut adalah Belalau dan Lumbok Seminung di Lampung Barat serta kopi dari Pulau Panggung di Tanggamus. Dengan adanya label kopi spesial, kopi Lampung diharapkan dapat bersaing dengan kopi asal Indonesia lainnya yang telah lebih dahulu mendunia.

Heriyansyah juga melanjutkan, sejalan dengan telah diberlakukannya, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan berdampak pada peningkatan   ekspor, karena berkurangnya hambatan dalam perdagangan yang pada akhirnya akan meningkatkan PDB secara Nasional dan PDRB Daerah. Selain itu MEA memberikan peluang dan ruang untuk pengembangan usaha perdagangan skala besar dan kecil dan Para pelaku usaha akan mendapatkan akses lebih baik dalam pelayanan pelayanan perbankkan.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi menekankan agar kepala dinas yang membidangi perkebunan baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota beserta jajarannya agar dapat merumuskan program/kegiatan pembangunan perkebunan tahun 2017 yang terpadu dan fokus dalam menyelesaikan permasalahan perkebunan di Lampung.

“Salah satunya adalah dengan mengembalikan kejayaan lada lampung yang sedang dicanangkan Dinas Perkebunan Provinsi Lampung,” pungkas Kabag Humas.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *