Potensi Besar Kayu Putih Di Papua

Minyak kayu putih adalah salah satu produk kehutanan yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Minyak kayu putih merupakan minyak atsiri hasil destilasi atau penyulingan daun dan ranting kayu putih (Melaleuca leucadendron Linn) yang memiliki bau dan khasiat yang khas, sehingga banyak dipakai para ibu untuk anaknya yang terkena sakit perut atau kembung, terutama ketika anaknya masih bayi.

Kayu Putih (Meialeuca leucadendra L.) Famili MyrtaceaeKayu putih dapat tumbuh di tanah tandus, tahan panas dan dapat bertunas kembali meskipun setelah terjadi kebakaran.

Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 400 m dpi, dapat tumbuh di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah berawa atau membentuk hutan kecil di tanah kering atau basah.

Ciri-ciri pohon kayu putih mempunyai tinggi berkisar antara 10-20 m, kulit batangnya berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan kulit yang terkelupas tidak beraturan.

Batang pohonnya tidak terlalu besar, dengan percabangan yang menggantung kebawah. Daunnya tunggal, agak tebal seperti kulit, bertangkai pendek, letak berseling.

Helaian daun berbentuk jorong atau lanset, dengan panjang 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata dan tulang daun hampir sejajar. Permukaan daun berambut, warna hijau kelabu sampai hijau kecoklatan, Daun bila diremas atau dimemarkan berbau minyak kayu putih.

Perbungaan majemuk bentuk bulir, bunga berbentuk seperti lonceng, daun mahkota warna putih, kepala putik berwarna putih kekuningan, keluar di ujung percabangan. Buah panjang 2,5-3 mm, lebar 3-4 mm, warnanya coklat muda sampai coklat tua.

Bijinya halus, sangat ringan seperti sekam, berwarna kuning. Buahnya sebagai obat tradisional disebut merica bolong. Ada beberapa varietas pohon kayu putih. Ada yang kayunya berwarna merah, dan ada yang kayunya berwarna putih.

Rumphius membedakan kayu putih dalam varietas daun besar dan varietas daun kecil. Varietas yang berdaun kecil, yang digunakan untuk membuat minyak kayu putih.

Daunnya, melalui proses penyulingan, akan menghasilkan minyak atsiri yang disebut minyak kayu putih, yang warnanya kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Perbanyakan dengan biji atau tunas akar.

Potensi Pengembangan Kayu Putih di Papua
Hutan Papua sebagai salah satu hutan hujan tropis dan juga merupakan paru-paru dunia yang masih tersisa di wilayah Indonesia, ternyata menyimpan begitu banyak kekayaan hutan seperti flora, fauna dan hasil tambang serta mineralnya.

Namun terdapat juga hasil hutan non kayu yang belum diekspoitasi dan dikelola secara efektif dan efisien guna peningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Hasil hutan yang selama ini lebih dikenal masyarakat luas adalah hasil hutan kayu gelondongan, yang kemudian dikelola berdasarkan kepentingan dan jenis industri yang mengelolanya. Selain hasil kayu gelondongan yang telah dieksploitasi dan dikelola, juga terdapat hasil hutan non kayu, misalkan gaharu, gambir dan minyak kayu putih.

Hutan Papua menyimpan hasil hutan non kayu seperti minyak kayu putih, gaharu dan gambir yang cukup banyak, ketika gaharu menebarkan pesonanya maka banyak orang mulai mencari dan mengambilnya. Namun ternyata dalam proses pengambilan tersebut terjadi perusakan pohon yang mengakibatkan tidak ada kesinambungan atau keberlanjutan hidup dari pohon gaharu, ini disebabkan karena pengelolaannya yang masih bersifat simultan dan belum terorganisir dengan baik. Semoga nasib tragis pohon gaharu tidak menimpa nasib pohon penghasil minyak kayu putih dan gambir.

Memang harus disadari bahwa flora di Papua paling beragam namun baru sebagian kecil saja yang diteliti dan dimengerti. Padahal berdasarkan data yang ada diperkirakan sekitar 60-90 % tumbuhan di Pulau Papua merupakan spesies endemik sehingga hanya terdapat di Papua.

Banyak di antara tumbuhan itu memiliki sebaran yang sangat terbatas, sehingga hanya terdapat di Papua. Hampir 80 % luas wilayah Papua masih dalam bentuk hutan yang masih relatif utuh dan menjadi rumah bagi lebih dari 50 % jenis satwa dan tumbuhan yang ada di Indonesia (CI, 1999).

Hal ini jelas membuat Papua memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan status Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tertinggi di dunia.

Namun sayangnya laju deforestasi di Papua cukup tinggi, data Baplan (2002) menunjukan rata rata laju deforestasi pada periode 1985-1997 mencapai 117,523 ha/tahun.

Begitu pula luas areal lahan lahan kritis di Papua juga semakin meningkat pada tahun 2001 hanya sekitar 5.91.930 ha dan selanjutnya pada tahun 2004 berubah menjadi 8.136.718 Ha.(Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah X, Papua)

Sumber hutan di tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) sangat beraneka ragam antara lain ;
• Kayu dengan AAC minimum sekitar 3,9 juta meter kubik.
• Rotan dengan daya produksi 19, 3 Kg/Ha.
• Minyak kayu putih (120.000 ha) daya produksi 2 ton/Ha.
• Buaya yang hidup pada habitat 6,3 juta hektar dengan populasi lebih kurang 2,6 juta ekor serta banyak potensi lainnya.

Minyak Kayu Putih di Kabupaten Merauke
Kabupaten Merauke sebagai tempat dimana pohon penghasil minyak kayu putih tumbuh dengan sendirinya dan cukup banyak terdapat dibeberapa tempat, antara lain: desa Wasur, Yanggandur, Rawa Biru , Sota dan Tomerau.

Minyak Kayu Putih dalam nomenklatur kehutanan merupakan hasil hutan non kayu, yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem hutan yang ada.

Adapun pohon penghasil Minyak Kayu Putih (MKP) dari jenis Melaluca yaitu Asteromyrthus simpocarpa tumbuh secara alami dalam kawasan Taman Nasional Wasur, tentunya menyimpan potensi besar untuk menunjang kegiatan perekonomian masyarakat local khususnya dan harapan ke depan dapat menjadi salah satu ciri khas kota Merauke.

Namun kendala yang dihadapi adalah dalam hal proses produksi yang nantinya mempengaruhi mutu MKP dan pemasarannya. MKP yang telah diolah oleh masyarakat lokal dan kelompok kerja masyarakat pemasarannya masih terbatas untuk pasar local maupun regional.

Maka diperlukan terobosan-terobosan strategis tentang pemasaran yang efektif dan efisien melalui berbagai cara, guna menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi.

Kurangnya kerjasama atau perhatian pihak-pihak dari kalangan dunia usaha, pemerintah, Non Government Stakeholder (NGS) dan masyarakat umum lain, sehingga masyarakat lokal sebagai kelompok produsen tradisional (home industry) tidak mampu untuk berkembang.

Selain untuk memasarkan produk masyarakat penghasil minyak kayu putih guna meningkatkan pendapatan, juga dapat menjadikan kota Merauke sebagai Kota Penghasil Minyak Kayu Putih dari Selatan Papua.

Selama kurang lebih sejak tahun 1999 hingga kini, ada beberapa pihak dari Non Goverment Stakeholder (NGS) telah melakukan kerjasama dan kemitraan dengan masyarakat produsen minyak kayu putih di Merauke berupa pelatihan pengolahan MKP, alat-alat penyulingan dan kerjasama pemasaran.

Misalkan Yayasan Wasur Lestari berkerjasama dengan masyarakat lokal penghasil MKP dalam hal pelatihan penyulingan, peningkatan mutu produksi dan pembelian MKP hasil pengolahan masyarakat serta pemasaran MKP.

Sistem pemasaran MKP untuk pasar lokal masih sangat sederhana, hanya dengan menitipkan produk MKP dalam kemasan botol di hotel, toko-toko dan apotik di kota Merauke selain menjual sendiri.

Itupun tidak dibarengi dengan control yang kontinyu terhadap volume penjualan MKP tiap bulannya. Kenyataan ini tentu kurang mendukung upaya pemasaran MKP ditingkat pasar lokal.

Maka wajar saja jika upaya pemasaran ini menjadi kurang potensial mendatangkan keuntungan karena sangat tidak seimbang dengan potensi pasar lokal yang cukup besar dan tersedia di Kabupaten Merauke.

Kendala lain yang dihadapi dalam pemasaran MKP adalah promosi yang tidak intensif serta kemasan MKP yang kurang menarik (belum ada register DepKes) dan kurang praktis sehingga masyarakat yang mengkonsumsinya hanya sebagai cinderamata, bukan karena kebutuhan akan MKP.

Mengenai mutu MKP menurut konsumen, bahwa mutu MKP cukup baik terutama untuk kalangan orangtua, sebab mereka menggunakannya sebagai obat urut. Masalah lain yang timbul dari pemasaran untuk pasar lokal adalah harga jual yang bervariasi dan cenderung membingungkan masyarakat (konsumen).

Kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap usaha swadaya masyarakat local dibidang MKP menyebabkan perkembangan usaha ini tidak mengalami kemajuan.

Perhatian yang diberikan oleh pemerintah daerah melalui Badan Promosi Daerah dan Deperindag berupa memfasilitasi untuk MKP mengikuti kegiatan expo dan pameran, namun kelanjutan dari proses tersebut tidak nampak dampaknya pada kelompok produsen yang notabene masyarakat local.

Usaha promosi dan kemitraan yang dijalin masyarakat local (dibaca: produsen) dengan beberapa lembaga swadaya seperti: YWL dan WWF lebih berkualitas dan berkesinambungan.

Hal yang paling utama yang menjamin sukses tidaknya sebuah produk bersaing dipasaran, tentunya menyangkut manajemen yang profesional karena di dalamnya menyangkut SDM pengelola (mulai dari proses penyulingan hingga pemasaran), produk (menyangkut mutu, kemasan dan harga).

Selain itu juga harus tersedianya pasar local yang potensial serta distribusi produk ke konsumen serta promosi, publikasi dan pelayanan yang gencar dari berbagai pihak termasuk dukungan dari pihak pemerintah daerah.

Untuk menciptakan image Merauke sebagai kota penghasil Minyak Kayu Putih, maka perlu dilakukakannya perencanaan kerjasama antara pihak produsen dengan pihak-pihak lain yang dapat mengembangkan usaha MKP baik dari segi produksi, promosi serta pengembangan manajemen usaha yang kuat.

Semua berpulang pada pihak-pihak yang dapat membantu serta mendukung pengembangan usaha Minyak Kayu Putih di Papua.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *