Perlu Adanya Inovasi Pangan Guna Perkuat Ketahanan Pangan Jateng

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan upaya untuk dapat mewujudkan kedaulatan pangan didaerahnya, berbagai peran inovasi di bidang pertanian sangat diperlukan. Apalagi seperti yang diketahui bahwa luas lahan pertanian di Jawa Tengah kian hari semakin berkurang, seiring dengan pembangunan kawasan pemukiman. Disamping itu juga bertambahnya jumlah penduduk, membuat kebutuhan pangan masyarakat juga bertambah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko MSi, mengatakan bahwa dirinya sangat tertarik dan terinpirasi terhadap pemerintah Republik Rakyat Tiongkok yang menjamin kecukupan pangan rakyatnya, demikian disampaikan Wagub Jateng di Raktor Dewan Ketahanan Pangan Prov Jateng, dikutip dalam laman Jatengprov.

Jumlah penduduk Tiongkok yang mencapai sekitar 1,36 milliar jiwa dan luas lahan pertanian terbatas, mampu memenuhi kebutuhan beragam produk pertanian melalui penerapan berbagai teknologi. Antara lain mengembangkan penanaman dengan media non tanah, menanami lahan kritis, dan inovasi lainnya.

Bahkan demi memenuhi kebutuhan bahan pangan pokok masyarakat, pemerintah Tiongkok rela menyewa tanah di negara lain seperti di vietnam, Kamboja, Bahkan sampai ke Afrika.

Menurut Heru, makin besar masalah kecukupan pangan maka solusi yang dicari harus lebih banyak. Sejumlah program maupun terobosan Pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat memang sudah dilakukan. Tetapi, jika melihat inovasi sektor pertanian di Negeri Tirai Bambu tersebut, Indonesia masih ketinggalan.

Untuk itu Pemprov Jateng berharap kepada semua pihak terutama para pemimpin daerah mengoptimalkan pengelolaan beragam potensi daerahnya, terutama di bidang pangan. Tidak hanya lahan sawah atau tegalan untuk bercocok tanam dan berternak, namun juga memanfaatkan pekarangan rumah secara optimal sehingga setiap daerah di Jawa Tengah mampu menghasilkan bahan pangan sebanyak-banyaknya.

Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo dalam sambutan tertulis menyampaikan bahwa Perum Bulog diharapkan dapat memanfaatkan moment panen raya pada Maret, April, hingga Juli 2016 dengan mempercepat pengadaan dan memperbanyak waktu pelayanan program serap gabah petani (Sergap).

Potensi produksi padi per tahun rata-rata sekitar 9 sampai 11 juta ton gabah kering giling yang tersebar di 35 kabupaten dan kota di Jateng. Sedangkan stok gabah Perum Bulog Divisi Regional IV Jateng per 25 April, sekitar 129,600 ton. Untuk itu Perum Bulog harus menggencarkan penyerapan gabah petani.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jateng Ir Whitono MSi menambahkan, program penyerapan gabah nasional merupakan upaya menanggulangi turunnya harga gabah di tingkat petani pada musim panen raya seperti bulan-bulan ini. Program Sergap oleh Bulog, dapat memotong mata rantai perdagangan beras sehingga harga pangan pokok menjadi stabil.

Untuk dapat mengoptimalkan hal tersebut, Whitono mengatakan perlu adanya political will dan kebijakan gubernur sebagai ketua DKP, penyatuan gerak dan koordinasi antar sektor, serta mediasi politik terhadap kebijakan pangan di tingkat pusat, kabupaten, dan kota. Sehingga hal ini mampu membangun ketahanan pangan di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *