Peran Pemda NTT Dibutuhkan Untuk Realisasikan Industri Garam

Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu daerah yang dianggap potensial untuk mengembangkan industri garam di Indonesia. Kunci untuk dapat merealisasikan hal tersebut adalah ketersediaan lahan untuk membangun industri garam sehingga sangat membutuhkan peran aktif dari bupati atau kepala daerah setempat.

Oleh karena itu Menteri Perindustrian Saleh Husin meminta kepada kepala daerah untuk dapat mempercepat proses penyelesaian lahan agar industri garam bisa masuk ke NTT. Lahan kerap kali menjadi kendala untuk membangun industri sehingga peran aktif dari kepala daerah untuk membebaskan lahan sangat diperlukan.

Menperin menambahkan dengan adanya kepastian lahan untuk industri garam, maka para investor akan banyak masuk ke wilayah tersebut. Dengan masuknya investor tersebut tentunya akan berdampak positif bagi daerah tersebut karena akan menyerap tenaga kerja lokal.

Seperti diketahui bahwa beberapa daerah di NTT memang dinilai potensial untuk mengembangkan industri garam, karena memiliki curah hujan yang sangat rendah bahkan musim kemarau terjadi hampir sepanjang tahun. Kondisi tersebut diyakini mampu mendukung perkembangan industri garam di Indonesia, terlebih lagi untuk garam industri di mana tidak semua daerah memiliki kondisi yang sama.

Menperin meminta kepada pemerintah daerah setempat untuk mau bekerja sama dalam membangun industri garam nasional. Industri garam menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat karena saat ini Indonesia masih mengimpor garam, padahal memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada, bahkan untuk garam industri masih belum bisa memproduksinya.

Untuk itu pemerintah bertekad untuk mencapai swasembada garam dan membangun industri garam dalam negeri agar tidak lagi bergantung kepada garam impor. Terkait dengan swasembada garam, pemerintah telah mencanangkan sejumlah program seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pegaraman.

Progam intensifikasi dilakukan dengan cara mengoptimalkan lahan pegaraman yang ada melalui penataaan lahan, waduk penampungan, lahan penguapan dan meja pegaraman. Selanjutnya  melakukan perbaikan saluran primer termasuk pintu air laut masuk, saluran sekunder ke kolam penguapan dan saluran tersier ke meja garam, serta pengadaan alat pencucian dan iyodisasi.

Sementara untuk program ekstensifikasi merupakan program pemanfaatan lahan-lahan potensi dan belum dikelola secara optimal. Seperti salah satunya yang ada di propinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki lahan sangat luas dan musim kemarau yang sangat panjang sekitar 7-8 bulan.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *