Pekalongan, Minapolitan yang Mengembangkan Potensi Udang Vaname

Udang merupakan salah satu komoditas utama yang masih diunggulkan untuk dikembangkan di Indonesia, selain dapat meningkatkan akan kesejahteraan nelayan dan juga meningkatkan perekonomian daerah. Hal ini dikarenakan permintaan pasar akan komoditas udang masih terbuka lebar, baik untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri juga untuk diekspor ke pasaran dunia.

Kota Pekalongan, Jawa Tengah, saat ini diperhitungkan dalam produksi udangnya sebagai bagian dari produksi udang nasional. Ini dikarenakan Kota Pekalongan memiliki lahan yang sangat berpotensi untuk mengembangkan akan budidaya udang Vaname, yang termasuk bagian dari konsep minapolitan yang dicanangkan Pemerintah Kota Pekalongan sebagai kota perikanan dengan berbasiskan pada pengembangan di sektor perikanan tangkap dan budidaya perikanan.

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan, Pertanian dan Kelautan Pekalongan, potensi lahan bekas sawah yang bisa digunakan sebagai lahan tambak udang sekitar 730 hektare, yaitu pada Kecamatan Pekalongan Utara, yang meliputi wilayah Pabean, Bandengan, Kandang Panjang, Panjang Baru, Degayu, dan Krapyak. Dari 730 hektare lahan yang ada, 358 hektare digunakan sebagai lahan tambak, dimana 70 hektarenya merupakan tambak budidaya udang Vaname yang memiliki keunggulan sangat signifikan, yaitu dapat dijual sekalipun dalam berbagai ukuran. Menurut Seno Aji, salah satu pemilik tambak udang Vaname di Pekalongan, harga udang Vaname sekarang ini mencapai harga sekitar Rp. 55.000  sampai Rp. 65.000 per kg-nya. Harga ini selalu stabil, dan jarang untuk bergerak.

Sekalipun budidaya udang Vaname masih tergolong baru bagi masyarakat Kota Pekalongan, namun telah terbukti memberikan kontribusi bukan hanya bagi masyarakat petambak udang saja, juga terhadap PDRB Kota Pekalongan dimana ditahun 2014 mencapai 23,53 persen. Sejalan dengan itu, angka kemiskinan masyarakat nelayan tambak Kota Pekalongan menurun dari 800 keluarga menjadi hanya tinggal 114 keluarga saja.

Walikota Pekalongan, Basyir A. Syawie, mengatakan bahwa usaha budidaya udang terus berkembang di Kota Pekalongan telah terbukti mengurangi pengangguran. “Sebagai contoh di Desa Degayu, salah satu sentra budidaya udang di Pekalongan. Tiga tahun yang lalu, ada 800 orang tanpa pekerjaan, tetapi saat ini tinggal 100-an orang lagi yang masih belum bekerja”, jelas Basyir, kepada sejumlah media di pertemuan FGD dengan Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Agustus lalu.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *