Menteri Pertanian : Produksi Jagung Melimpah Tiga Bulan Kedepan

Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi komoditi jagung untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Berbagai langkah dan upaya terus dilakukan pemerintah dalam upaya peningkatkan produksi jagung pada sepanjang tahun 2016.
Kementerian Pertanian (Kementan)memperkirakan produksi jagung melimpah dalam tiga bulan ke depan karena adanya peningkatan produksi dari petani sehingga dikhawatirkan kelebihan stok untuk pakan ternak.

Mengutip laman infopublik.id, Rabu (18/1), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) khawatir kelebihan stok atau over supply sehingga tidak dapat terserap oleh mereka, karena dalam waktu tiga bulan mendatang akan ada panen jagung sebanyak 12 juta ton, atau rata-rata empat juta ton per bulan sementara kebutuhan untuk industri pakan dalam negeri sebanyak 700 ribu ton per bulan.

“Ini kita antisipasi dari awal karena ada satu daerah peningkatannya 40 persen sampai 50 persen areal penanaman jagungnya,” katanya seusai melakukan pertemuan dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) di Kementerian Pertanian, Jakarta.

Amran menjelaskan, melimpahnya produksi jagung ini juga akan terjadi pada 15 Februari 2017 nanti. Daerah Lampung akan mengalami panen raya jagung pada bulan Februari 2017. Amran meminta BUMN untuk bisa menyerap produksi jagung tersebut.

“Luar biasa ternyata kalau kita sinergi kemajuan kita dahsyat. Tanggal 15 ada panen kita akan ada panen di Lampung. Solusinya adalah kalau nanti over supply, Bulog akan turun tangan,” ujarnya.

Menurut Amran, kenaikan jumlah produksi jagung terjadi di beberapa daerah yang menjadi lumbung jagung yakni Gorontalo, Sulawasi Tenggara, Dompu, Bima, Sumbawa, Jatim, Lampung, Sulsel. “Jawa Barat juga meningkat. Nanti juga semester satu ini enggak akan ada permintaan impor,” ungkap Amran.

Adapun untuk harga jagung sendiri, juga tidak ada perubahan ataupun kenaikan. Di petani, harga jagung berada Rp 3.100 per kilogram dan konsumen mencapai Rp 4.000 per kilogram. “Ini sudah sesuai sama peraturan yang ada. Ini sudah bagus harus kita jaga,” ucap Amran.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan adanya peningkatan serapan jagung lokal tahun ini, tahun lalu serapan jagung sebesar 7,8 juta ton atau 650 ribu ton per bulan, sekarang 700 ribu ton.

Pihaknya tidak ingin dibilang tidak bisa menyerap jagung lokal sehingga menjatuhkan harga komoditas tersebut. Pihaknya pun membangun gudang, pengering dan silo untuk memaksimalkan penyerapan jagung. Silo merupakan istilah untuk tempat penampungan jagung sementara sebelum masuk ke area produksi Silo biasa digunakan di bidang pertanian sebagai penyimpan biji-bijian hasil pertanian dan pakan ternak. Diharapkan dengan Silo, kita harap kapasitas simpan kita hanya dua bulan, ujar Budi.

Ia menambahkan, Bulog sebagai bagian pemerintah mampu berperan sebagai stabilisator dengan menjadi buffer stock atau pasokan penyangga nasional. “Bulog katanya lagi menyiapkan infrastruktur,” ujar dia.

Menurutnya jika produksi jagung mampu bertahan memenuhi kebutuhan pihaknya, impor kembali akan bisa ditekan tahun ini termasuk impor jagung. “Kalau jagungnya cukup tidak perlu impor,” katanya.

Sebelumnya, Kementan memprediksi produksi jagung tahun 2016 ini mencapai 23,16 juta ton. Untuk tingkat produktivitas jagung tiap tahun mengalami peningkatan yaitu tahun 2014 produktivitas jagung sebesar 49,5 kuintal/Ha, tahun 2015 naik menjadi 51,7 kuintal/Ha dan tahun 2016 diprekirakan mencapai 52,8 kuintal/Ha.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *