Mengulik Prospek dan Seluk Beluk Ekspor Belut

Di Indonesia, membudidayakan belut memang masih jarang dilakukan, mengingat masyarakat yang lebih memilih belut hasil tangkapan liar. Padahal permintaan pasar baik dari dalam negeri maupun luar negeri mulai membanjiri hewan yang masuk dalam suku Synbranchidae ini.

Berbanding terbalik dengan Roy Ruslan, salah seorang pembudidaya sekaligus eksportir belut yang melihat hewan air ini sangat propektif bila dijadikan bisnis.

“Saya melakukan riset ke beberapa negara di Asia Tenggara dan Eropa untuk melihat apakah belut sangat propektif. Setelah saya melakukan riset, ternyata hasilnya sangat bagus karena belus memilki pasar yang sangat luas,” kata pria yang akrab disapa Ruslan ini saat disambangi di daerah Situgede, Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Di Indonesia sendiri, permintaan pasar cukup tinggi yang bisa dilihat dari total ekspor disetiap harinya. Dalam satu hari, ia mengaku dapat mengekspor 20 ton bahan baku belut (belut hidup).

“Kalau di Indonesia sediri kita sudah distribusikan belut hidup itu sekitar 20 ton per harinya ke beberapa daerah, seperti Jakarta, Jogja, Padang, dan Surabaya. Kalau untuk ekspor ke luar negeri, semisal Jepang, Korea, dan China itu bisa mencapai 400 sampai 500 ton per harinya,” ungkap Ruslan.

Melihat prospek penjualan belut yang baik semacam itu, lanjut Ruslan, maka untuk pengiriman belut ke luar negeri masih sangat terbuka lebar. Bagi Anda yang berniat menjalankan bisnis ekspor belut, Ruslan mengatakan ada beberapa hal yang perlu Anda kuasai.

“Untuk menjadi eksportir belut, harus memiliki kesabaran, ketekunan, memiliki komunikasi yang baik sesama pembudidaya belut sehingga tidak ada kesan memonopoli usaha belut. Selain itu, untuk eksportir pemula sebaiknya masuk ke beberapa komunitas atau perkumpulan pembudidaya belut. Lalu mempelajari tentang pengetahuan teknik dan cara membudidaya belut yang nantinya akan menjadi bekal di dalam usaha budidaya belut sekaligus menjadi eksportir,” kata pria yang menjabat Dirut PT. Dapetin Global Mandiri ini.

Setelah itu, lanjut Ruslan, yang harus dilakukan lainnya adalah menjaga hubungan baik dengan sesama pembudidaya belut serta kepada para eksportir belut lainnya karena dasar dari usaha ini ialah seperti mata rantai yang harus berikat kuat dan sejajar dengan tujuan untuk memenuhi permintaan dari para konsumen yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bila semua itu sudah dilakukan, barulah mengurus segala ijin ekspor di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Biasanya Dinas terkait akan meminta beberapa persyaratan seperti meminta surat legalitas perusahaan untuk mendapatkan surat ijin ekspor. Setelah itu eksportir memberikan beberapa koli belut untuk masuk ke karantina yang nantinya belut tersebut akan diperiksa kesehatannya apakah memenuhi standar untuk bisa diekspor dan setelah itu eksportir akan dikenakan biaya adminitrasi sesuai ketentuan.

Setelah semua hal tersebut berjalan, maka sebaiknya eksportir membuat konsep untuk pengemasan. Untuk pengemasan standar impor biasanya menggunakan styrofoam berukuran sekitar panjang 100 cm x lebar 50 cm untuk satu koli. Ukuran satu koli dapat menampung 33 kg belut.

Karena para konsumen luar negeri khususnya untuk negara-negara Asia menginginkan belut dalam keadaan hidup dan segar, maka untuk mencegah kematian belut pada saat pengiriman, sebaiknya tambahkan batu es sebanyak satu genggam tanggan orang dewasa ke dalam koli.

Fungsi batu es disini ialah untuk menidurkan belut saat proses pengiriman atau bisa dikatakan sebagai proses bius alami. Namun, untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu belut terbangun dari tidurnya yang bisa menyebabkan gesekan di antara kulit belut sehingga dapat saling menyerang, maka sebaiknya ketika memasukan es batu ke dalam koli juga dituangkan satu sendok makan minyak sayur.

“Dengan perlakuan tersebut maka belut akan sampai ke negara tujuan dengan selamat dan sesuai dengan permintaan konsumen yaitu belut yang masih hidup, segar dan tidak cacat,” pungkas Ruslan.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *