Mengenal Tanaman Kakao

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.
Kakao lebih sering disebut sebagai buah coklat karena dari biji kakao yang telah mengalami serangkaian proses pengolahan dapat dihasilkan coklat bubuk. Cokelatdalam bentuk bubuk ini banyak dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman, seperti susu, selai, roti, dan lain–lain. Selain sebagai bahan makanan dan minuman, coklat juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Daerah asal tanaman kakao adalah hutan hujan tropis di Amerika Tengah, tepatnya di antara 18° LU sampai 15° LS. Tanaman kakao telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1560, namun baru menjadi komoditas yang penting mulai tahun 1921. Sekitar tahun 1930’an Indonesia dikenal sebagai Negara pengekspor biji kakao terpenting di dunia. Tahun 2010 Indonesia merupakan pengekspor biji kakao terbesar ketiga dunia dengan produksi biji kering 550.000 ton setelah Negara Pantai Gading (1.242.000 ton) dan Gana dengan produksi 662.000 ton.

Diperkirakan tahun 2010, dari 1.475.344 ha areal kakao Indonesia, sekitar 1.372.705 ha atau 93 % adalah kakao rakyat.  Areal dan produksi kakao Indonesia meningkat pesat pada dekade terakhir, dengan laju 5,99% per tahun. Produksi kakao Indonesia sebagian besar dihasilkan dari perkebunan rakyat yang tersebar di daerah-daerah Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Irian Jaya. Produksinya sebagian besar diekspor, khususnya ke negara-negara Belanda, Jerman Barat, Amerika Serikat, dan Singapura, dalam bentuk biji kering, bubuk kakao, pasta dan margarin. Hal ini mengindikasikan peran penting kakao baik sebagai sumber lapangan kerja maupun pendapatan bagi petani.

Jenis kakao yang ditanam pada awalnya sebagian besar dari jenis Criollo atau flavour cocoa, yang termasuk jenis kakao bermutu baik, namun produksinya rendah dan peka terhadap serangan hama dan penyakit. Sejak diperkenalkannya jenis kakao lindak/kakao baku (bulk cocoa)) pada tahun 1973 oleh BPP Medan, pengembangan kakao di Indonesia banyak menggunakan jenis tersebut yang diketahui relatip tahan terhadap hama dan penyakit serta produktivitasnya tinggi, meskipun rasanya termasuk sedang.

ASPEK BOTANI

  1. Sistimatika

Divisio             : Spermatophyta

Klas                 : Dicotyledoneae

Ordo                : Malvales

Famili              : Sterculiaceae

Genus             : Theobroma

Spesies           : Theobroma cacao L

  1. Deskripsi Tanaman

Tanaman kakao dapat tumbuh sampai ketinggian 8-10 m, namun ada kecenderungan tumbuh lebih pendek bila ditanam tanpa pohon peneduh. Tanaman yang diperbanyak dengan biji, mula-mula akan tumbuh membentuk batang yang lurus sebelum menumbuhkan cabang primer. Tempat tumbuhnya cabang primer disebut jorquette, biasanya terletak pada ketinggian 1 – 2 m. dengan ketinggian jorquette yang ideal adalah 1,2 – 1,5 m.

Dari batang maupun cabang akan muncul tunas air (chupon).  Pada batang, tunas air tumbuh di bawah jorquete dan bila dibiarkan tumbuh terus akan membentuk lagi jorquette sampai terbentuk 3- 4 susunan jorquette.

Tanaman kakao memiliki percabangan yang bersifat dimorphous (memiliki 2 bentuk percabangan yang berbeda); cabang yang selamanya tumbuh vertikal disebut cabang orthotrop, sedangkan cabang yang tumbuh horizontal disebut cabang plagiotroph.

Daun kakao terdiri dari tangkai daun dan helai daun, dengan panjang 25-34 cm serta lebar 9-12 cm. (chupori) dan 1/2 pada cabang plagiotroph. Daun yang baru tumbuh disebut flush, berwarna merah, permukaannya halus seperti sutera, dan setelah dewasa warna daun berubah menjadi hijau.

Tanaman kakao memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus ke bawah mencapai 15 m, namun pada tanah yang drainasenya kurang baik atau permukaan air tanahnya dangkal, pertumbuhan akar tunggang tidak lebih dari 45 cm. Akar-akar lateral (sekunder) tumbuh pada leher akar tidak jauh dari permukaan tanah, dan pada tanaman dewasa menyebar pada kedalaman 15-20 cm di bawah permukaan tanah. Tanaman yang diperbanyak dengan setek tidak memiliki akar tunggang, namun biasanya ada 2-3 akar yang tumbuh lurus ke bawah menyerupai akar tunggang.

Bunga tumbuh dari bantalan bunga yang terletak pada cabang (disebut ramiflora) atau pada batang (disebut cauliflora). Tergolong bunga sempurna, terdiri atas: daun kelopak (5 helai) berbentuk lanset, panjang 6-8 mm berwarna putih; mahkota berbentuk cawan, panjang 8-9 mm, berwarna putih kekuningan atau kemerahan; benang sari (10 helai). tersusun dalam dua lingkaran (satu lingkaran bersifat steril); putik (5 helai) dengan tepi saling bersatu membentuk bakal buah beruang satu. Diameter bunga 1,5 cm, disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2-4 cm.

Berdasarkan tipe penyerbukannya, tanaman kakao digolongkan dalam dua golongan:  (a) bersifat self fertile atau self compatible, yakni dapat dibuahi oleh tepungsari dari bunga tanaman itu sendiri, atau tanaman self steril; contoh: DR 2, DR 38., dan (b) bersifat self steril atau self incompatible, yakni hanya dapat dibuahi oleh tepungsari dari bunga dari klon lain; contoh : DR 1.

Buah kakao berupa buah buni, daging bijinya sangat lunak. Waktu masih muda biji menempel pada kulit buah, dan akan terlepas bila buah sudah masak. Buah muda yang masih kecil disebut cherelle (pentil), kebanyakan akan mengering (disebut chrelle wilt) sehingga hanya sebagian kecil saja yang berkembang menjadi buah sampai matang. Buah muda berwarna hijau atau merah dan berubah menjadi kuning atau oranye setelah masak. Di dalam setiap buah terdapat 30-50 biji, dengan bobot kering satu biji sekitar 0,8 – 1,3 g.

  1. Penggolongan Jenis/Tipe

Pada dasarnya tanaman kakao terdiri dari 3 tipe :

(1) Criolo, dibedakan lagi menjadi :  (a) Central American Criollos, dan
(b) South American Criollos

(2) Forastero, dibedakan lagi menjadi:  (a) Lower Amazone Forastero, dan
(b) Upper Amazone Hybrids (UAH)

(3) Trinitario

Criollo : adalah tipe tanaman kakao yang menghasilkan biji kakao kering yang biasa dikenal sebagai fine flavour cocoa, choiced cocoa, edel cocoa, atau kakao mulia. Ciri-ciri utama tipe criolo: tongkol berwarna hijau atau merah; kulit berbintil-bintil kasar, tipis dan lunak; biji bulat telur dengan kotiledon berwarna putih pada waktu basah.

Forastero: adalah tipe tanaman kakao yang menghasilkan biji kering yang biasa dikenal sebagai bulk cocoa, ordinary cocoa, atau kakao baku. Ciri-ciri utama tipe forastero: tongkol berwarna hijau; kulit tebal; biji gepeng dengan kotiledon berwarna ungu pada waktu basah

Trinitario: adalah tipe tanaman kakao hasil persilangan alami antara criollo dengan forastero, sehingga sangat heterogen dengan biji kering yang dihasilkan bisa edel cocoa, atau bulk cocoa. Ciri-ciri utama tipe trinitario: tongkol berwarna hijau atau merah; kotiledon berwarna ungu muda sampai ungu tua.

Berdasarkan bentuk buahnya Trinitario dikelompokan lagi menjadi 4 golongan, yaitu:

(1)  Angoleta : bentuk luar lebih dekat dengan criollo, kulit sangat kasar, tanpa botle neck, buah besar, biji bulat, alur dalam, endosperm ungu, kualitas superior.
(2)  Cundeamor : bentuk buah seperti angoleta, kulit kasar, botle neck jelas, biji gepeng (sedikit manis), alur tidak dalam, endosperm ungu gelap, kualitas superior.
(3)   Amelonado : bentuk buah bulat telur, kulit halus, ada yang memiliki botle neck ada yang tidak, biji gepeng (sedikit manis), alur jelas, endosperm ungu, kualitas ada yang sedang ada yang superior.
(4)  Calabacillo : buah pendek dan bulat, kulit sangat halus (licin), tanpa botle neck, biji gepeng (lebih pahit), alur sangat dangkal, endosperm ungu, kualitas rendah.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *