Komoditas Sudah Punya Jalur Sendiri

Hingga awal tahun ini, progres fasilitas jalur pelayaran langsung atau direct call belum juga terlihat peminatnya. Hal ini ditengarai karena sebagian besar komoditas ekspor Kaltim sudah memiliki jalur perdagangan masing-masing.

“Persoalan kesiapan fasilitas yang sempat menjadi kendala, hingga kini pun belum terlihat solusinya,” ucap Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Bidang Logistik dan Perbendaharaan, Sevana Podung.

Namun dia menilai, kendala terbesar memang datang dari persoalan jenis dan kuantitas komoditas yang akan diekspor. Meski mengapresiasi upaya Pelabuhan di Kariangau, Balikpapan dalam menyediakan jalur perdagangan satu pintu, beberapa eksportir di Kaltim disebutnya sulit mengubah jalur pelayaran. Kalaupun ingin diajak mengubah jalur, mesti ada jaminan bahwa perubahan itu bersifat permanen alias tak lagi diubah.

“Di sisi lain, perusahaan besar seperti KPC (Kaltim Prima Coal) sudah punya fasilitas ekspor sendiri. Sehingga rugi jika harus diajak melakukan mobilisasi lewat Balikpapan,” ungkap Podung.

Dia menjelaskan, mengajak seluruh pengusaha eksportir untuk menjadikan pelabuhan peti kemas di Kariangau sebagai pintu keluar barang, harus didahului dengan ketersediaan infrastruktur. Yang dimaksud Podung adalah jalur darat menuju pelabuhan, dari daerah-daerah di Kaltim.

“Pemerintah memang merencanakan jalur kereta. Tapi sampai sekarang belum bisa dibicarakan. Untuk pembebasan lahan rel pun saya dengar baru sekitar 30 persen. Kapan mau dimulai pembuatan fisik rel kereta, itu belum terlihat,” tuturnya.

Dia mengatakan, fasilitas belum terlihat, kesiapan komoditas juga belum ada. Sehingga tujuan direct call ini belum bisa maksimal. Namun, dari Pemerintah ataupun Kadin tetap melakukan sosialisasi agar semua komoditas bisa memanfaatkan program ini. Tapi memang masih fluktuatif sekali, apalagi kalau kita berbicara komoditas dari sektor pertanian punya kendala besar. Seperti, banyak sektor yang dijual mentah belum memiliki industri hilir, agar memiliki nilai tambah untuk diekspor.

“Sehingga dapat dibilang bahwa progress direct call ini belum bisa dilihat dalam waktu dekat. Namun, sebagai perwakilan pengusaha, Kadin bersama pemerintah masih tetap mengupayakan agar sosialisasi produk fasilitas dari pemerintah itu bisa terealisasi sesegera mungkin,” ujarnya.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *