Komoditas Primer Kalbar Berusaha Bangkit

Tak banyak yang berubah dari Kalimantan Barat. Barang-barang alam masih menjadi andalan untuk jualan. Buruknya infrastruktur masih menjadi penghambat industrialisasi. Bicara angka, tahun 2015 adalah tahun yang buruk untuk  produk seperti karet, CPO dan tambang. Situasi yang sama diperkirakan akan berulang tahun ini.Oleh : Aristono K

Tahun 2015 merupakan tahun yang teramat berat untuk Kalimantan Barat. Walaupun ekonomi masih tetap tumbuh, tercatat, pertumbuhannya sangat lambat. Pertumbuhannya diperkirakan hanya akan berada di angka 4,4-4,8 persen saja. Sementara inflasi meningkat 6,17 persen dari tahun lalu. Hal ini membuat pertumbuhan ekonomi Kalbar kembali berada di bawah rata-rata nasional. Parahnya, berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Kalbar justru ditopang oleh konsumsi.

Sementara nilai ekspor Kalbar dari sektor pertambangan, perkebunan dan kehutanan tak bisa diharapkan. Sejumlah komoditas primer Kalbar harganya anjlok di pasar dunia. Semakin meningkatnya kurs dollar amerika terhadap rupiah tak banyak membantu peningkatan nilai ekspor. Bayangkan, total nilai ekspor tahun 2015 turun 14,16 persen dari tahun sebelumnya. Dari data ekspor terakhir, yaitu periode Januari-November 2015 Kalbar hanya mampu mencatatkan nilai ekspor hingga USD518,89 juta di rentang waktu itu. Angka itu tak sampai separo dari ekspor tahun 2013.

Hal ini disebabkan oleh berhentinya ekspor bauksit Kalbar akibat pemberlakukan larangan ekspor mineral dan batubara sejak tahun 2014. Sementara dua komoditas utama lainnya seperti karet dan CPO juga menurun karena permintaan yang menurun, meski tak seekstrem bauksit. Hancurnya pertambangan bauksit di Kalbar sangat identik dengan peraturan larangan ekspor mineral mentah oleh pemerintah sebelumnya. Niatnya baik, yaitu untuk mendorong perusahaan-perusahaan membangun smelter agar bauksit memiliki nilai tambah. Namun apa daya, hanya satu dua perusahaan yang mampu atau mau membangun industri pengolahan. Pemerintah hanya melarang, tapi tak menyiapkan apa-apa.

Kendalanya banyak, seperti permodalan dan infrastruktur pendukung. Ekonom Universitas Tanjungpura, Eddy Suratman, menyebut investor tidak akan tertarik untuk membangun industri hilir di Kalbar apabila infrastrukturnya masih seperti saat ini. “Pembangunan smelter untuk mengolah bauksit menjadi barang setengah jadi atau barang jadi  tidak berjalan dengan baik. Persoalannya ada di infrastruktur kita, terutama listrik, jalan dan air bersih. Hilirisasi di Kalbar berjalan lambat,” sebutnya.

Namun tahun ini beberapa raksasa di bidang pengolahan tambang seperti PT Antam dan Harita yang berjoin dengan perusahaan China diperkirakan akan memulai produksi aluminanya. Hal tersebut dapat membuat pertambangan bauksit di Kalbar bangkit kembali.

Bauksit boleh tidak jalan. Namun paling memukul masyarakat bawah adalah penurunan komoditas karet. Saat ini di tingkat petani, karet hanya dihargai Rp3000-5000 ribu per kilogramnya. Karet alam memang sangat tergantung dari harga dunia, dimana Tiongkok yang menjadi salah satu konsumen terbesar karet alam juga tengah melambat ekonominya. “Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan ekspor karet sebagai komoditas ekspor utama Kalbar. Kontraksi ekspor karet disebabkan oleh karena masih belum pulihnya permintaan dunia yang antara lain dipengaruhi oleh permintaan dari negara Tiongkok yang tumbuh relatif terbatas,” kata Kepala Perwakilan BI Kalbar, Dwi Suslamanto.

Sebenarnya Kalbar punya komoditas yang sangat mempengaruhi ekonomi masyarakat, yaitu minyak kelapa sawit mentah. Namun sejauh ini CPO juga mengalami nasib serupa. Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar Idwar Hanis menyebut dua pengimpor utama CPO; China dan India sudah mengurangi pembeliannya karena memang ekonomi mereka merosot. “Sepertinya ini akan berlanjut tahun ini,” sebut dia.

Namun, kabar baiknya, sebut dia, pemerintah akan mulai fokus pada tahun ini untuk memanfaatkan CPO dalam negeri sebagai bahan bakar kendaraan. “Pemerintah mulai fokus pada produksi biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri. Artinya permintaan domestik akan membantu harga CPO kita. Sembari kita berharap ekonomi China dan India membaik, sehingga permintaan ekspor CPO kita ke mereka tinggi. Ada harapan untuk CPO tahun ini bangkit, walaupun tak tinggi.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *