Kesalahpahaman Masyarakat Tentang Emas

Logam mulia emas merupakan salah satu aset finansial yang banyak diminati oleh investor. Meskipun demikian, tidak semua investor tersebut sudah memahami tentang seluk beluk emas itu sendiri. Mayoritas kesalahpahaman ini berasal dari peran ganda emas yaitu sebagai komoditas dan mata uang. Artikel ini akan mengungkap dan menjelaskan beberapa anggapan yang salah dan mengulas hal-hal yang benar tentang peran emas dalam pasar.

1. Emas Sebagai Mata Uang

Mungkin sebagian masyarakat salah paham tentang peran emas sebagai suatu mata uang. Kondisi tersebut disebabkan karena saat ini emas tidak digunakan sebagai sebuah mata uang resmi dan tidak ada orang yang menggunakan emas sebagai alat pembayaran. Namun, dalam sistem pasar bebas, emas bisa dianggap sebagai mata uang karena memiliki sebuah harga. Harga emas tersebut akan mengalami fluktuasi terhadap beberapa mata uang asing lain seperti dolar AS, euro atau yen. Selain itu, emas beberapa kali bergerak meninggi pada saat tingkat kepercayaan terhadap mata uang lain turun, dan ketika terjadi ketidakstabilan ekonomi dan krisis finansial.

Seperti yang diketahui, bahwa emas mempunyai kaitan erat dengan mata uang dolar AS, karena emas biasanya diperdagangkan dalam mata uang ini. Karenanya, ada korelasi terbalik antara harga emas dan dolar AS. Adanya korelasi ini bisa dipertimbangkan ketika harga emas dinilai sebagai nilai tukar: sama seperti halnya seseorang dapat menukarkan dolar AS ke mata uang yen Jepang, mata uang kertas juga bisa ditukarkan ke emas.

2. Supply Dan Demand Yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Emas

Apabila harga emas hanya ditentukan oleh permintaan untuk perhiasan dan penggunaan dalam industri, sangat tidak mungkin bisa sampai berharga 1,326 dolar AS per troy ons seperti saat ini.

Beberapa analis seperti pada organisasi Gold Anti-Trust Action Committee (GATA) mengklaim bahwa mereka bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada harga emas dengan menambah permintaan emas untuk perhiasaan serta industri dan permintaan emas untuk investasi (termasuk permintaan pembatalan hedging oleh perusahaan pertambangan). GATA membandingkan total hasil tersebut dengan supply tahunan logam mulia emas (supply pertambangan, penjualan emas dari bank sentral). Singkatnya, organisasi GATA menganalisis pasar emas sama seperti ketika mereka menganalisis pasar komoditas lain pada umumnya.

Namun, sebenarnya perhitungan seperti itu kurang tepat, mengingat hasil pertambangan emas kurang lebih ada sebanyak 150,000-160,000 tons. Sementara total supply emas adalah 97-98 persen lebih besar daripada produksi emas setiap tahunnya, (kurang lebih sebanyak 2,600 ton). Kesimpulannya adalah mengaplikasikan analisis supply atau demand komoditas biasa yang berdasarkan tren tahunan pada pasar emas tidak efektif.

Hal itu dikarenakan terdapat perbedaan antara komoditas yang tidak tahan lama serta cepat habis dan komoditas dengan karakteristik tidak mudah hancur seperti emas. Supply dan demand emas tidak begitu berpengaruh terhadap harga emas karena pergerakan harga emas cenderung dipengaruhi oleh faktor lain seperti pertumbuhan ekonomi global.

3. Produksi Tambang Emas Vs Total Demand

Gambar diatas menunjukkan bahwa pada saat harga emas meningkat, produksi tambang emas sebenarnya flat. Ada dua alasan utama mengapa hal itu bisa terjadi:

a. Selama tren harga emas menurun, perusahaan tambang emas dipaksa untuk meningkatkan kualitas emas agar lebih tinggi (menambang porsi bijih yang lebih tinggi kualitasnya). Suatu ketika harga emas menanjak, mereka hanya mengubah aktivitas tambang mereka ke kualitas bijih emas yang lebih rendah.

b. Sementara itu, pada periode harga emas yang mengalami penurunan, biaya untuk kegiatan eksplorasi menurun, jadi ketika harga emas meningkat, hanya akan ada sedikit perusahaan pertambangan yang akan beroperasi. Perusahaan tambang membutuhkan waktu paling tidak 7-10 tahun dari penemuan bijih untuk mulai melakukan kegiatan tambangnya.

4. Demand Perhiasan Vs Demand Emas Bank Sentral

Seseorang bisa menjelaskan lebih lanjut tentang keunikan logam mulia emas dengan melakukan sebuah penelitian pada harga emas vs demand perhiasan. Apabila demand perhiasan menanjak maka akan berdampak baik terhadap harga emas. Secara teori, kenaikan demand perhiasan yang sangat tinggi juga bersamaan dengan naikknya harga emas. Namun faktanya rekor permintaan perhiasan tertinggi yang terjadi pada tahun 1999-2000 silam terjadi seiring dengan melemahnya pasar emas saat itu.

Kondisi tersebut tentunya berlawanan dengan apa yang dikatakan dalam analisis supply dan demand pada komoditas tradisional biasa bahwa tingginya demand akan menyebabkan harga naik. Oleh karena itu, pasti ada suatu alasan dibalik demand emas selain untuk keperluan perhiasan dan industri dan alasan ini menjadi penggerak utama harga emas. Permintaan emas tersebut berasal dari bank-bank sentral dunia. Bank-bank sentral ini menimbun emas sebagai kebutuhan untuk cadangan moneter mereka. Dalam hal ini, peran emas dalam pasar lebih seperti mata uang daripada suatu komoditas.

Kenaikan harga emas biasanya menyebabkan harga permintaan perhiasaan menurun, seperti yang dikatakan dalam teori dari elastisitas harga. Namun, dalam waktu bersamaan, kenaikan harga emas biasanya cenderung didorong oleh demand emas untuk investasi. Oleh karena itu, penyebab utama naiknya harga emas adalah demand emas bank-bank sentral dan investor yang takut terhadap ketidakpastian ekonomi, mengingat total demand untuk industri relatif stagnan sejak tahun 1999 lalu.

Lalu Faktor Apa Saja Yang Mampu Mendorong Demand Emas Untuk Cadangan Moneter?

  • Kebijakan Moneter

Transaksi emas diantara otoritas moneter dan pihak lain di pasar emas ditentukan oleh keputusan dan kebijakan moneter saat itu. Kebijakan moneter tersebut bisa meliputi tindakan bank-bank sentral yang menentukan ukuran dan tingkat pertumbuhan jumlah uang beredar, yang nantinya akan berdampak pada keputusan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter terus diperbarui dengan cara mengubah tingkat suku bunga, membeli atau menjual obligasi dan juga mengontrol dan mengubah cadangan moneter.

  • Mata Uang Dolar AS

Salah satu faktor lain yang menjadi pendorong demand emas untuk cadangan moneter adalah mata uang dolar AS. Walaupun mata uang ini merupakan salah satu mata uang cadangan di dunia, ketika nilai tukar dolar AS jatuh terhadap mata uang asing lainnya seperti yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 silam, para pelaku pasar termasuk bank sentral berbondong-bondong lari ke aset safe haven seperti emas. Penurunan nilai tukar dolar AS tersebut disebabkan oleh beberapa alasan termasuk membengkaknya anggaran belanja AS, neraca perdagangan defisit, dan adanya peningkatan pada jumlah uang yang beredar.

  • Inflasi

Logam mulia emas sudah sejak lama dijadikan sebagai pelindung kekayaan pada saat terjadi krisis dan inflasi tinggi. Hal ini terjadi karena saat nilai pada emas itu sendiri akan terus mengalami peningkatan meskipun terjadi inflasi tinggi dan berganti tahun.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *