Kerinci, Penghasil Kulit Kayu Manis (Cassiavera) Terbesar di Dunia

Kerinci adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia dengan luas wilayah 380.000 ha. Setengah dari luas tersebut merupakan kawasan  Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Alam Kabupaten Kerinci merupakan daerah pegunungan, selain gunung kerinci (3.805 mdpl) terdapat juga gunung raya dan gunung belerang. Sebagai daerah pegunungan, selain mempunya potensi pariwisata alam juga mempunyai potensi hasil pertanian baik berupa produk hortikultura maupun herbal. Herbal yang terpenting dan terkenal dari Kabupaten Kerinci adalah Kulit Kayu Manis atau Cassiavera.
Sejak beberapa tahun belakangan, Kulit Kayu Manis (Cassiavera) asal Kerinci ini memang menjadi komoditi ekspor utama ke AS. Rupanya, tidak banyak yang tahu bahwa di mata dunia, Indonesia merupakan produsen terbesar Cassiavera. Elizabeth Tjahjadarmawan, penulis buku ” Cassiavera dari  Kerinci Primadona Dunia” mengatakan sebagian besar kebutuhan dunia terhadap produk ini dipasok oleh Indonesia. Bahkan kata dia, Kabupaten Kerinci-Provinsi Jambi merupakan penghasil Cassiavera terbesar di dunia. ” Hingga tahun 2009 luas area penanaman Cassiavera di Kerinci mencapai sekitar 41.825 hektar. Seluruh areal lahan Cassiavera di daerah lain dan di belahan dunia masih jauh lebih kecil dibanding Kerinci,” kata Elizabeth.
Kulit Kayu Manis atau lebih dikenal dengan nama Cassiavera adalah sejenis pohon penghasil rempah-rempah. Termasuk kedalam jenis rempah-rempah yang beraroma, manis dan pedas. Kulit Kayu Manis adalah salah satu bumbu masakan tertua yang digunakan manusia. Bumbu ini pertama kali digunakan di Mesir Kuno sekitar 5000 tahun yang lalu, dan disebutkan beberapa kali di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Kulit Kayu manis secara tradisional juga digunakan sebagai Suplemen untuk berbagai penyakit, dengan dicampur madu, misalnya untuk pengobatan penyakit radang sendi, kulit, jantung dan perut kembung.
 
Masyarakat Kerinci biasanya mengolah Kulit Kayu Manis ini menjadi minuman khas yaitu sirup Kayu Manis. Sirup khas Kerinci ini dapat ditemui di kios-kios pinggir jalan Siulak Deras. Kulit Kayu Manis Kerinci memiliki keunggulan dalam berbagai hal, antara lain : Aroma dan Cita rasa, kandungan minyak Astiri yang tinggi, warna yang khas, ketebalan ukuran dan bentuk yang tidak dimiliki oleh Kayu Manis dari daerah lain.
Namun sayangnya, potensi yang besar ini belum bisa dinikmati dengan layak oleh para petani kayu manis. Nilai tambah produk kayu manis belum dilakukan ditingkat petani. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petani pemborong, ada kecendrungan penurunan gairah untuk menanam kembali kayu manis yang disebabkan rendahnya harga Kulit Kayu Manis ini ditingkat petani produsen. Petani produsen lebih suka mengalihkan tanaman ke komoditi yang lebih bernilai ekonomi lebih tinggi daripada kayu manis dan masa tunggu yang lebih pendek seperti : kopi dan karet. Apabila kecendrungan penurunan ini tidak dapat dibendung, maka dalam waktu 20-25 tahun kedepan mungkin Kabupaten Kerinci tidak lagi menjadi pemasok Kulit Kayu Manis yang diperhitungkan dunia. Disisi lain, harga kulit kayu manis ditingkat exporter mencapai tiga kali lipat dari harga tingkat petani pemborong.  Tingginya perbedaan  harga ini mengindikasikan tidak sehatnya perdagangan kulit kayu manis mulai dari tingkat petani sampai ke exporter bahkan importer. kajian rantai nilai (value chain analysis) perlu dilakukan untuk mencari apa yang menjadi kendala sehingga petani tidak bisa mendapatkan harga yang wajar agar tetap bergairah membudidayakan tanaman kayu manis.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *