Kemilau Emas Tanah Papua Menyinari Amerika

Banyak yang bertanya, seberapa besar kontribusi Freeport Indonesia bagi sang induk usaha, Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc?

Mohamad Hidayat, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM pernah mengungkapkan, kekayaan tambang Freeport di Papua begitu berlimpah.

Kekayaan sumber daya alam di dua tambang Freeport di Papua membuat Freeport enggan hengkang dari Indonesia. Maklum, lokasi tambang lain milik Freeport McMoran tak sebanding dengan cadangan tembaga dan emas di Papua yang menggiurkan.

Tak heran, jika PT Freeport Indonesia berani membenamkan investasi hingga miliaran dolar AS untuk mengeduk “harta karun” dari lapangan tambangnya yang ada di tanah air.

Hidayat menyebutkan, kontribusi cadangan Freeport Indonesia dari satu lapangan tambang (Grasberg) kepada produksi induk usahanya mencapai 28% untuk komoditas tembaga. Sedangkan kontribusi emas dari tambang Papua mencapai 99%.

Bandingkan dengan kontribusi lokasi tambang lain yang dimiliki Freeport McMoran. Ambil contoh, lapangan tambang Freeport McMoran yang ada di di Amerika Utara (7 lokasi) . Antara lain, di Colorado, New Mexico dan Arizona.

Sementara lokasi tambang Freeport McMoran di Amerika Selatan berada di dua lapangan, yakni di Chile dan Peru. Adapun di wilayah Afrikan, Freeport McMoran memiliki lapangan tambang di Kongo.

Catatan Hidayat, kontribusi cadangan dari tambang Freeport di Amerika Utara untuk tembaga memang mencapai 34%. Namun, kontribusi lapangan di wilayah tersebut terhadap cadangan emas Freeport McMoran hanya 1%.

Adapun, kontribusi dari tambang di Amerika Selatan untuk komoditas tembaga sebesar 31%. Namun, lokasi tambang di wilayah Amerika Selatan itu sama sekali tidak menyimpan potensi cadangan emas.

“Kontribusi pendapatan dari Freeport Indonesia untuk McMoran 16% dari tembaga dan emas 93%. Jadi cukup besar saat ini ,” beber Hidayat, akhir Desember 2015.

Catatan saja, saat ini Freeport menguasai tambang Grasberg Papua yang merupakan salah satu tambang emas terbesar di dunia.

Berdasarkan laporan tahunan Freeport McMoRan, tambang ini tercatat memiliki cadangan emas sebesar 28,2 juta ounces (sekitar 881,25 ton, 1 ounce = 28,35 gram) dan 29,0 miliar pounds tembaga (14,5 juta ton, 1 pound = 453,59 gram).

Sepanjang 2015, Freeport McMoran mencatat pendapatan dari penjualan emas dan tembaga dari tambang Grasberg di Papua yang dikelola PT Freeport Indonesia sebesar US$ 3,11 miliar atau sekitar Rp 42,92 triliun, turun dibandingkan periode sama 2014 sebesar US$ 3,42 miliar.

Berdasarkan laporan publikasi Freeport-McMoRan yang dirilis Selasa (26/1), sepanjang tahun lalu tambang Grasberg mencatatkan penjualan emas sebanyak 744 juta pon, naik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 664 juta pound. Produksi tembaga juga naik dari 636 juta pon menjadi 752 juta pon.

Namun, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) tembaga Freeport dari tambang Grasberg tercatat US$ 2,33 per pound atau turun dibandingkan ASP tahun sebelumnya sebesar US$ 3,01 per pon. Akibatnya, penjualan tembaga turun dari US$ 1,99 miliar pada 2014 menjadi US$ 1,73 miliar.

Penjualan komoditas emas juga mengalami nasib serupa dengan 2014. Tambang Grasberg tercatat memproduksi emas sepanjang tahun lalu sebanyak 1,232 juta ounce dan penjualan 1,224 juta ounce.

Angka produksi dan penjualan 2015 ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 1,130 juta ounce produksi dan 1,168 juta ounce penjualan.

Namun, ASP emas kembali lebih tinggi 2014, yaitu sebesar US$1.229 per ounce dibandingkan tahun lalu yang tercatat US$1.129. Total pendapatan Freeport-McMoRan dari tambang Grasberg sepanjang tahun lalu dari komoditas emas sebesar US$ 1,38 miliar, lebih rendah dibandingkan 2014 sebesr US$ 1,43 miliar.

Secara keseluruhan, pendapatan Freeport-McMoRan juga merosot 26% dari US$ 21,438 miliar di 2014 menjadi hanya US$ 15,877 miliar di sepanjang 2015.

Dalam laporan keuangan tahun 2015, Presiden dan Chief Executive Officer Freeport-McMoRan Richard C Adkerson mengatakan, turunnya pendapatan perusahaan disebabkan terus merosotnya harga komoditas tambang di pasaran dunia.

Pada kuartal keempat 2015 dan awal tahun 2016, harga komoditas tambang melemah. Harga tembaga di pasar spot turun 15% menjadi US$ 2,00 per pon pada 30 September 2015, dan harga minyak jenis Brent merosot 37% menjadi US$ 30,50 per barel pada tanggal 30 September 2015.

Merosotnya harga-harga komoditas ini, menurut Richard, salah satunya disebabkan karena perlambatan ekonomi China. Ini berdampak pada menyusutnya permintaan barang-barang komoditas.

“Harga komoditas dan minyak terus merosot. Ini menjadi kekhawatiran ekonomi global, khususnya soal perlambatan ekonomi China. Ini menjadi sentimen negatif di pasar keuangan,” kata Richard dalam Laporan Keuangan Freeport-McMoRan, Januari 2016.

Alhasil, pada 2015, PT Freeport-McMoRan mencatatkan kerugian US$ 12,236 miliar. Kerugian ini membengkak 835% dari kerugian tahun 2014 sebesar US$ 1,308 miliar.

Perseroan juga mencatat kerugian operasional sepanjang 2015 sebesar US$ 13,382 miliar. Padahal, di tahun 2014, Freeport McMoran mencatat pendapatan operasional sebesar US$ 97 miliar.

Apapun dalih yang diungkapkan Richard, manajemen Freeport McMoran tak bisa memungkiri besarnya kontribusi Freeport Indonesia bagi sang induk.

Apalagi, jika melihat kontribusi Freeport Indonesia bagi Freeport McMoran pada tahun 2009. Berdasarkan data Freeport-McMoran per akhir 2009, Freeport Indonesia merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi induk perusahaan tambang emas yang berpusat di Phoenix, Arizona, AS itu.

Ketika itu, Freeport Indonesia membukukan pendapatan US$5,9 miliar, jauh melampaui perusahaan Freeport yang beroperasi di Amerika Utara dengan pendapatan US$4,8 miliar.

Bahkan, Freeport Indonesia juga mengungguli perusahaan dalam kelompok Freeport yang beroperasi di Amerika Selatan dan Eropa. Di Amerika Selatan, kontribusi pendapatan perusahaan Freeport di sana sebesar US$3,8 miliar, sedangkan Eropa hanya US$1,89 miliar.

Secara total, pendapatan Freeport-McMoran dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sejumlah negara tersebut selama 2009 mencapai US$15,04 miliar.

Bukan hanya untuk Amerika, Freeport juga membayarkan manfaat langsung bagi Indonesia. Freeport Indonesia telah menyetor kepada pemerintah Indonesia senilai US$1,01 miliar, lebih tinggi dibanding perusahaan Freeport di Amerika Selatan dengan pembayaran US$507 juta.

Sayangnya, menurut Fahmy Radhi, peneliti Universitas Gadjah Mada, pendapatan yang diperoleh Indonesia dari kontribusi Freeport Indonesia tak sebanding dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2015, pendapatan pemerintah dari Freeport Indonesia hanya US$ 539 juta saja. Pendapatan tersebut berasal dari royalti dan pajak. “Sementara dividen enggak pernah dibayarkan selama tiga tahun terakhir ini,” kata Fahmy kepada Tabloid KONTAN.

Melihat kinerja PTFI dan kontribusinya untuk Indonesia, Fahmy berpendapat, harga divestasi 10,64% senilai US$ 1,72 miliar atau sekitar Rp 23,91 triliun dengan hitungan kurs Rp 13.900 per saham, terlalu mahal. Belum lagi jika memperhitungkan ongkos dampak kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi rakyat Papua.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *