Kementan Upayakan Peningkatan Produktivitas Sapi Bali

Sapi Bali merupakan salah satu plasma nutfah atau Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH) yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan sudah menjadi ikon sapi nasional. Sapi Bali sebagai rumpun ternak asli Indonesia telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 325/kpts/OT.140/1/2010 dan telah terdaftar di DAD-IS FAO.


Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), I Ketut Diarmita, mengatakan bahwa pemerintah pada saat ini mengupayakan peningkatan produksi sapi Bali, pasalnya sapi Bali akan menjadi tumpuan harapan peningkatan produksi sapi lokal di masa mendatang.

Menurut Diarmita, sapi Bali merupakan ternak asli Indonesia yang cepat beradaptasi, mudah dikembangbiakkan (memiliki kemampuan produksi dan reproduksi yang sangat baik), dan mempunyai kualitas daging yang baik.

“Daging sapi Bali mempunyai beberapa kelebihan ,antara lain memiliki keadaan perlemakan (marbling) warna dan keempukan yang baik. Sapi Bali dengan pola pemeliharaan secara ekstensif dan sepenuhnya mengandalkan pakan hijauan tanpa ada konsentrat dan treatment hormonal merupakan suatu nilai tambah dan dapat masuk dalam kategori daging sapi organik,” kata Diarmita.

Untuk mengembangkan dan menjaga pelestarian sapi Bali, Ditjen PKH-Kementan memiliki beberapa strategi, diantaranya yaitu:

1). Pengembangan dan pelestarian sapi Bali di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Bali di Pulukan Provinsi Bali, yang merupakan unit pelayanan teknis sebagai penghasil bibit sapi Bali yang berkualitas. BPTU Sapi Bali produknya telah tersertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Benih dan Bibit ternak yang terakreditasi.

2). Pemurnian sapi Bali melalui penguatan pembibitan di Pulau Nusa Penida yang sudah berjalan sejak tahun 2013. Kegiatan pemurnian sapi Bali ini didampingi oleh pakar pemuliaan, dan saat ini sudah lebih nyata terjadi peningkatan mutu genetik yang terlihat dari performans sapi Bali tersebut yakni bibit yang dihasilkan rata-rata telah memenuhi SNI yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) yang dikeluarkan dari Dinas Peternakan Kabupaten Klungkung. Selain pelaksanaan pemurnian sapi Bali di Nusa Penida juga telah dilakukan penguatan pembibitan di sentra-sentra pembibitan lainnya yaitu di Kabupaten Badung dan Buleleng.

3). Pewilayahan sumber bibit sapi Bali, dimana sampai saat ini Menteri Pertanian sudah menetapkan 4 wilayah sumber bibit sapi Bali, yaitu Kabupaten Barru, Kabupaten Kelungkung, Kabupaten Barito Koala dan Kabupaten Konawe Selatan. Tujuan adanya pewilayahan sumber bibit antara lain untuk membentuk wilayah/daerah pemurnian ternak asli/lokal Indonesia, sehingga ternak asli/lokal Indonesia dapat lestari, mewujudkan dan menjamin ketersediaan bibit ternak baik secara jumlah maupun mutu. Saat ini Kabupaten Buleleng masih dalam proses verifikasi untuk di tetapkan menjadi Wilayah Sumber Bibit, yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai wilayah Sumber Bibit melalui Keputusan Menteri Pertanian.

4). Dalam rangka untuk memperbaiki kualitas sapi Bali, BPTU Sapi Bali juga bekerjasama dengan Pemda Provinsi dan Pusat Kajian Sapi Bali (PKSB) Universitas Udayana (UNUD) untuk melakukan pengkajian perbaikan nutrisi dan breeding, yang bertujuan untuk menghasilkan sapi dengan kualitas daging yang lebih baik (marbling sempurna), sehingga dapat meningkatkan nilai jual seperti halnya sapi wagyu (daging sapi termahal di dunia).

Berdasarkan dari berbagai penelitian menyatakan bahwa daging sapi Bali memiliki potensi yang besar untuk dapat dikembangkan menjadi premium meat produksi daging lokal Indonesia. Untuk menghasilkan premium meat tersebut tentunya diperlukan perlakuan khusus selayaknya dilakukan kepada sapi-sapi rumpun lainnya yang diperuntukkan untuk menghasilkan premium meat. Produk daging ini sebagai jawaban atas pemenuhan kebutuhan wisatawan asing yang dalam tahun 2017 di targetkan sebanyak 4,2 juta orang atau memerlukan sapi siap potong sebanyak 11.000 ekor.

“Oleh karena itu, jika daging sapi Bali atau Bali Beef pemotongannya dipilih sesuai dengan pembagian jenis potongan daging, maka prime cut daging sapi Bali dapat mengisi pasar untuk Horeka (Hotel, Restoran dan Katering ) yang khusus untuk dikonsumsi masyarakat menengah ke atas,” ungkap Diarmita.

“Jangan hanya jual ternak hidup, tapi jual daging sapi Bali. Jika daging sapi Bali terjual menyamai daging wagyu yang khusus untuk konsumsi menengah ke atas, maka peternak kita akan untung dan bergairah dalam menjalankan usahanya ” pungkasnya.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *