Kemenperin Dorong Mars Lakukan Hilirisasi Kakao Menjadi Makanan

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong perusahaan pengolah biji kakao yaitu PT Mars Symbioscience untuk melakukan proses hilirisasi lebih lanjut hingga menjadi produk makanan di Indonesia. Kementerian Perindustrian telah menetapkan industri pengolahan kakao sebagai salah satu industri prioritas untuk dikembangkan melalui program hilirisasi.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto di Jakarta, mengatakan jika PT Mars Symbioscience telah melakukan hilirisasi tahap pertama yaitu mengolah biji kakao menjadi bubuk kakao (cocoa powder), lemak cokelat (cocoa butter) dan pasta cokelat (cocoa liquor).

Panggah mengungkapkan bahwa perusahaan dalam hal ini memiliki peluang yang sangat besar mengingat permintaan produk tersebut di pasar dalam negeri terus meningkat, ditambah infrastruktur yang semakin memadai. Untuk itu pihaknya terus mendorong hilirisasi ke produk jadi.

Terkait dengan hilirisasi hingga menjadi produk makanan jadi memang membutuhkan dukungan dari pemerintah, seperti dari sisi kebijakan hingga ketersediaan bahan baku di dalam negeri. Butuh fleksibilitas tata niaga agar bisa berjalan optimal, karena untuk komoditas kakao masih dimungkinkan tidak impor sedangkan untuk gula, susu dan kacang masih harus bersinergi.

Oleh karena itu Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan perlu memikirkan ini. Namun sebagai penghasil kakao terbesar nomor tiga di dunia, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dalam menanam maupun memanen kakao sehingga bisa menjadi komoditas unggulan dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Ditambah lagi dengan pertumbuhan permintaan kakao yang mencapai 2-3 persen per tahun yang menjadi peluang tersendiri bagi kakao Indonesia untuk meraih pasar yang lebih besar. Tercatat produksi kakao Indonesia sebesar 700 ribu ton per tahun hanya berselisih 50 ribu ton dengan Ghana yang ada di posisi kedua sebagai penghasil kakao terbesar di dunia dengan tingkat produksi 750 ribu ton per tahun.

Sementara itu pemilik PT Mars Symbioscience, Frank Mars mengatakan jika pihaknya sedang menunggu waktu yang tepat untuk berinvestasi dan melakukan hilirisasi lebih jauh dalam mengolah biji kakao di Indonesia. Investasi di Indonesia sendiri telah menjadi strategi bisnis perseroan.

Frank Mars menambahkan jika bagi perusahaan pengolahan yang terletak di Makasar ini yang terpenting adalah meningkatkan kemampuan petani lokal dalam memproduksi biji kakao dengan teknologi memadai serta pelatihan yang tepat. Untuk itu pihaknya akan memberikan pelatihan dan teknologi yang tepat guna untuk bisa digunakan para petani kakao di seluruh Indonesia agar produktivitas bisa meningkat.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *