Kemendag Perkuat Indonesia Sebagai Produsen Kakao Terbesar ke-3 Dunia

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan terus berupaya untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kakao terbesar ke-3 di dunia dibawah Pantai Gading dan Ghana dengan cara peningkatan kapasitas pemahaman para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan di rantai pasok global kakao.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi di Jakarta, Selasa (4/8) mengatakan bahwa pemahaman mengenai pasar berjangka kakao dan permodelan ekonometerik di pasar kakao akan ditingkatkan melalui berbagai upaya.

Upaya tersebut diantaranya melalui penyelenggaraan seminar Cocoa an Futures Markets and Econometric Modeling di Kuta, Bali. Komoditas kakao sendiri mampu berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia dengan jumlah produksi sebesar 700 ribu ton pada tahun 2014 dan nilai ekspor yang mencapai 1,2 miliar dolar AS.

Bachrul mengungkapkan bahwa Indonesia perlu memanfaatkan program-program peningkatan kapasitas produksi untuk menjaga dinamika pasar di dalam negeri. Kegiatan semacam seminar juga menjadi ajang para pemangku kepentingan kakao, dari sektor hulu sampai hilir untuk berinteraksi dan saling meningkatkan jaringan bisnis.

Dalam seminar tersebut dibicarakan dua isu penting yaitu peran dan fungsi pasar berjangka kakao, serta pemodelan ekonometrik kakao dunia. Pada sesi pertama mengenai pasar berjangka kakao, peserta seminar mendapatkan pengetahuan tentang cara memperhitungkan risiko operasional dan pasar yang dihadapi dalam rantai pasok kakao. Semakin pentingnya peran pasar berjangka dalam perdagangan komoditas kakao saat ini menjadi salah satu fokus utama pembahasan di sesi ini.

Direktur Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya Ditjen KPI Deny W.Kurnia yang turut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan Pasar berjangka memiliki peran penting dalam ekonomi kakao dunia yaitu memfasilitasi shifting risiko harga atau fungsi lindung nilai (hedging), memberikan informasi berharga mengenai storage decision, serta sebagai pusat pengumpulan dan penyebaran informasi harga dunia.

Berikutnya materi pada sesi ke-2 seminar dibahas mengenai model ekonometrik kakao dunia. Kajian isu-isu dan aspek teknis yang terkait dengan pemodelan ekonometrika ekonomi kakao dunia dibahas, termasuk pemodelan ekonomi kakao di masing-masing negara produsen kakao.

Deny mengungkapkan jika model ekonometerik merupakan alat ukur hubungan kuantitatif ekonomi dan secara umum model tersebut digunakan untuk meningkatkan pemahaman mengenai bagaimana pasar berfungsi dan dampak ekonomi dari pembuatan kebijakan, khususnya terkait dengan manajemen produksi.

Melalui seminar ini diharapkan para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan dapat memahami struktur dan dinamika pasar kakao sehingga mampu mengatasi tantangan utama yang dihadapi komoditas kakao saat ini dan masa depan, termasuk mengatasi tren harga komoditas yang cenderung menurun beberapa waktu terakhir.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *