Kehadiran Kapal Ternak Tidak Menjamin Harga Daging Turun

Kapal ternak tol laut Camara Nusantara (Camnus) 1 bersandar di Dermaga 108, Tanjung Priok. Awalnya kapal ternak membawa 500 ekor sapi dari Kupang dan Bima, namun sempat singgah di Tanjung Perak, Surabaya, untuk menurunkan 33 ekor sapi, di Cirebon 167 sapi, dan sisanya 300 ekor diturunkan di Pelabuhan Tanjung Priok. Dari ke 500 ternak yang diangkut tersebut, 300 ekor diantaranya adalah sapi bali yang diangkut dari pelabuhan Tenau Kupang dan 200 ekor sapi samba ongole yang diangkut dari pelabuhan Waingapu.
Berdasarkan rekapitulasi data pengajuan Shipping Instruction (SI) sampai tanggal 29 januari 2016, terdapat 13 perusahan yang telah megajikan permintaan untuk menggunakan kapal khusus ternak dengan jumlah ternak keseluruhan 1.063 ekor. Amran mengatakan dengan terus berjalannya pelayaran kapal ini menunjukan ketersediaan sapi potong di Provinsi NTT cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan daerah sentra konsumen seperti Jakarta dan beberapa daerah lainnya. Harga sapi yang datang bervariasi dan ditentukan berdasarkan B to B (bussines to bussines), dan untuk bobot badan ternak yang dikirim tersebut antara 275-325 kg.

Mentan juga mengklain bahwa pengiriman sapi lewat kapal khusus ternak selain untuk efisiensi biaya, juga sudah menerapkan prinsip animal welfare selama dalam perjalanan.

“Kedatangan sapi ini mungkin tidak langsung menurunkan harga daging di pasaran, namun manfaat kapal ternak baru dirasakan jangka panjang. Adanya sapi masuk, bukan berarti cepat berubah (harga daging di pasar). Bermanfaat jelas dan berpengaruh pada konsumen, sehingga nanti rantai pasok bisa lebih pendek,” tegasnya.

Hal tersebut akan mengubah struktur pasar, di mana di tingkat produsen terangkat dan di tingkat konsumen biaya akan turun. Dahulu setiap biayanya pengiriman per ekor sapi dari NTT ke Jakarta sangat tinggi sebesar Rp 1,8 juta per ekor, sekarang hanya Rp 320.000/ekor sampai Jakarta. Dulu perjalanan sapi dari petani sampai ke Cirebon misalnya butuh waktu 1,5 bulan-2 bulan, tapi sekarang hanya butuh 1 minggu paling lama. Artinya ada biaya yang akan terpangkas di sana,” ujar Mentan.

Menurutnya, harga daging hidup di peternak ada Rp34.000 dan Rp36.000/kg. Oleh karena itu, diperkirakan untuk ini, melepas rata-rata Rp 85.000 untuk di tingkat konsumen. Meski telah memangkas biaya distribusi yang panjang, namun Amran mengakui untuk memangkas harga daging di pasar masih memerlukan waktu.

Masalah disparitas harga daging sapi menjadi tantangan. “Butuh waktu untuk stabilkan menurunkan harga, tidak bisa satu dua minggu, permasalahan harga daging selesai. Ini persoalan puluhan tahun, bukan hanya di Jakarta, dimana pun ada disparitas harga yang terlalu jauh sampai 350 persen. Tapi kami yakin lewat kapal khusus ternak ke depan ini akan selesai,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian terkait mensukseskan terciptanya tol laut untuk memudahkan distribusi sapi ke pulau Jawa. Proses pengangkutan sapi dari daerah sentra ke daerah-daerah perkotaan yang sangat membutuhkan daging menjadi lebih cepat. Tindakan penyediaan sapi cepat lewat kapal ternak harus didukung oleh sektor lain, seperti perhubungan dengan tol lautnya.

Herman Khaeron berharap Kementerian Perdagangan juga turut aktif dalam mengontrol harga daging setelah pendistribusian sapi lebih lancar setelah adanya kapal ternak. “Terkait tata niaga kan berada dalam domainnya Kementerian Perdagangan, jadi setelah stok atau produksi ditingkatkan, saya harap harga di pasaran bisa terkontrol tidak lepas kendali seperti sebelumnya,” ujarnya

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *