Kalangan Swasta Berminat Investasi Jagung

Saat ini banyak kalangan swasta berminat untuk melakukan investasi pada pengembangan agribisnis jagung dengan membuka areal penanaman komoditas tersebut, memanfaatkan lahan tidur, tumpang sari dengan perkebunan atau pergiliran tanam dengan padi di beberapa daerah di Tanah Air.

Daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung di Indonesia adalah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Khusus untuk daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya.

Beberapa wilayah lain yang mulai dilirik perusahaan swasta untuk mengembangkan areal jagung tersebut adalah di Merauke Papua seluas 153 ribu hektare (ha) dari potensi lahan di sana yang mencapai 300 ribu ha.

Selain itu di wilayah Sumatra Utara seluas 15.000 ha, Riau 7.000 ha, Kalimantan mencapai 22.000 ha di antaranya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, Sulawesi lebih dari 50.000 ha.

Sementara itu PT APB siap mengembangkan usaha pertanaman jagung pada areal seluas 1000 hektare (ha) khusus untuk Jawa Barat dalam dua tahun mendatang yakni 2009-2010. Pertimbangannya adalah provinsi tersebut belum optimal produksi jagungnya dibanding Jateng dan Jatim.

Pengembangan lahan jagung itu akan dilakukan baik secara inti maupun plasma yakni dengan bekerja sama dengan petani yang mana PT APB akan menanggung sarana produksi seperti pupuk, benih dan menjamin pembelian hasil panen petani.

Harga Jagung Tetap Mahal Hingga 2017

Harga jagung di dalam negeri saat ini dalam kondisi yang baik yakni mencapai Rp3.600/kg pipilan kering naik dibanding tahun lalu yang hanya Rp2.200/kg atau sekitar Rp800 ribu/ton jagung tongkol dari Januari 2008 yang masih Rp650 ribu/ton jagung tongkol.

Dengan harga jual jagung pipilan kering berkisar Rp 3.500/kg, per ha lahan yang ditanami jagung bisa diperoleh keuntungan Rp 13 juta per panen. Dan diperkirakan hingga 2017 harga jagung akan bertahan pada tingkatan yang mahal sehingga merupakan kondisi yang tepat untuk mengembangkan komoditas jagung di dalam negeri.

Hal itu disebabkan permintaan jagung di tingkat internasional mengalami kenaikan sebagai akibat negara-negara maju memanfaatkan komoditas tersebut sebagai biofuel atau energi alternatif pengganti bahan bakar minyak.

Kondisi tersebut berdampak pada naiknya harga jagung di pasar internasional maupun domestik sehingga merupakan peluang yang bagus untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Dan menurut analisa, ternyata produksi jagung dalam negeri memang belum mampu mencukupi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak.

Untuk itulah dengan berbagai upaya dalam memenuhi permintaan konsumen agribisnis jagung ini. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasembada jagung sejak 2007 dikarenakan kebutuhan konsumsi dan industri pakan ternak yang melonjak. Diharapkan dalam pencanangan swasembada agribisnis jagung 2009 dapat berjalan dengan baik sesuai dengan mutu bibit tanaman jagung yang berkualitas didalam pengembangannya.

Pasar Domestik

Pada 2009 agribisnis Indonesia akan mengalami tekanan tidak ringan. Masih banyak ketidakpastian. Tapi peluang dan kekuatannya nyata, seperti pasar domestik. Hal ini menjadi modal kita dalam 6—8 bulan ke depan.
Berbekal pendapatan per kapita US$2.300 (data 2008) dan penduduk 230 juta, jangan terlalu khawatir dengan pasar Amerika Serikat dan Eropa. Sekitar 70% perekonomian nasional digerakkan oleh konsumsi (rumah tangga dan pemerintah).

Dalam menghadapi krisis 12—16 bulan ke depan, pemerintah mengambil tiga strategi.
1. Menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN) sebagai jangkarnya. Kalau permintaan berkurang, APBN digunakan untuk meningkatkan permintaan. Sedangkan jika harga naik, APBN berusaha menurunkan biaya.
2. Menjaga pertumbuhan konsumsi dalam negeri lebih dari 5% karena konsumsi  adalah fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
3. Menjaga neraca pembayaran dengan mengendalikan ekspor-impor. Tapi, yang perlu dicermati, karena tahun depan ada Pemilu, adalah stabilitas sosial politik. Diharapkan tidak ada gejolak sosial dan politikyang dapat mempengaruhi

Majulah agribisnis Indonesia, majulah para petani dan pengusaha agribisnis Indonesia.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *