Ingin Dongkrak Harga, Pemerintah Campur Aspal dengan Karet

Pernah mencapai US$ 4,61 per kilogram pada 2011, harga karet kini hanya sekitar US$ 1 per kilogram. Penyerapan di dalam negeri, diharapkan mendongkrak harganya di pasar dunia.

Pemerintah mulai uji coba penggunaan aspal campur karet di Jalan Raya Sukabumi (Ruas Ciawi-Benda kilometer 12), Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Proyek ini merupakan bagian dari upaya menambah serapan karet di dalam negeri, agar harganya naik di pasar dunia.

Upaya ini juga merupakan kesepakatan tiga negara International Tripartite Rubber Council (ITRC) yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk mengurangi ekspor karet alam. “Sejak komitmen bersama yang dicanangkan 2015 silam, Pemerintah Indonesia sepakat memanfaatkan karet alam secara masif, khususnya dalam pembangunan infrastruktur domestik yang dibiayai APBN,” ujar Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Nurlaila Nur Muhammad, Senin 5 Desember 2016.

Demo pengaspalan dilakukan sepanjang 200 m di satu sisi ruas Ciawi-Benda selebar 3,5 meter dengan ketebalan 4 sentimeter. Rencananya akan dilakukan uji coba skala penuh sepanjang 4,2 kilometer. Campuran aspal yang digunakan merupakan jenis karet alam cair (lateks) sebanyak 7 persen dan aspal yang digunakan untuk uji coba skala penuh seberat 200 ton. Diperkirakan menyerap karet alam sebanyak 840 kilogram.

Kinerja akan dimonitor paling sedikit dalam dua musim (kemarau dan hujan) dan evaluasi dilakukan selama dua tahun. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta asosiasi petani karet turut andil dalam proyek ini. “Pencampuran karet alam ke dalam aspal bermanfaat membuat jalan lebih tahan cuaca dan beban,”kata Nurlaila.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan melaksanakan uji coba penerapan aspal karet pada skala terbatas sepanjang 100 meter dan skala lapangan sepanjang 5 kilometer, serta meneruskan penelitian untuk meningkatkan kadar karet alam dalam aspal karet. “Targetnya agar campuran karet alam dalam aspal karet mencapai 15 persen dari total produksi aspal,” kata Nurlaila. “Produksi karet alam Indonesia pada 2016 diperkirakan sekitar 3,1 juta ton. Oleh karena itu, industrialisasi perlu terus dikembangkan agar campuran aspal karet alam dapat diproduksi dalam skala besar,” kata Nurlaila.

Nurlaila juga mengungkapkan, sejak menembus US$ 4,61 per kilogram pada 2011, harga karet alam mengalami tren menurun hingga hampir mencapai US$ 1 per kilogram di awal 2016. Sementara itu, realisasi ekspor karet alam Indonesia ke dunia sepanjang 2011-2015 juga mengalami tren menurun sebesar 24,58 persen. Nilai ekspor karet alam pada Januari-September 2016 sebesar US$ 2,38 juta juga menurun 18,53 persen jika dibandingkan nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2015 yang senilai US$ 2,92 juta. Adapun beberapa negara tujuan ekspor karet alam Indonesia antara lain Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, dan Korea Selatan. “Kami optimis bahwa jika penggunaan karet alam domestik meningkat, produksi yang 85 persen berasal dari petani mampu diserap dan mereka bisa menikmati harga yang baik,” kata Nurlaila.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *