Harga komoditas perkebunan berangsur naik, ekonomi Kuansing berangsur pulih

Rendah nya harga komoditas perkebunan (karet dan sawit) beberapa bulan lalu di daerah kuansing membuat masyarakat, khusus nya petani, mengalami tekanan ekonomi, karena rendah nya harga komoditas perkebunan sudah berlangsung cukup lama, yaitu berkisar pertengahan tahun 2015 sampai akhir 2016.
Salah seorang petani karet di Desa Pulau Aro, Arlis mengatakan mereka cukup merasakan dampak dari turun nya harga karet pada dua tahun terakhir, harga nya mencapai titik terendah Rp4000 ┬áperkilogram. “Kami merasakan susahnya hidup ketika harga karet rendah, membeli beras susah,” kata Arlis ke awak media riauone di teluk kuantan.
Namun memasuki awal tahun 2017 harga komoditas perkebunan berangsur naik, sekarang harga karet berkisar antara Rp.8000 sampai Rp10.000 perkilogram. Sementara harga sawit di tingkat petani sudah mencapai harga Rp500 sampai Rp2000 /kg. “Harapan petani terkait harga ini dapat terus naik dan bisa bertahan dalam waktu lama, agar ekonomi kami dan masyarakat yang sudah dua tahun belakangan sangat susah dapat berangsur angsur pulih, dan sekarang ekonomi masyarakat di desa kami sudah mulai membaik, karena masyarakat sudah banyak yang kembali bekerja sebagai Penderes karet,” papar Arlis lagi.
Di tambahkan Arlis, sekarang kondisi perkebunan karet di Desa Pulau Aro khususnya sudah berkurang, karena akibat turunnya harga karet dua tahun terakhir membuat masyarakat berpindah ke tanaman kelapa sawit. Dan rata rata kebun masyarakat itu hanya berkisar dua sampai 3 hektar saja. Itu pun belum panen, dan juga umur pohon karet yg ada saat ini rata rata sudah tua, tingkat produksinya sudah kecil.
Ditempat terpisah, salah seorang pedagang, Prisma (42) juga mengatakan hal serupa, akibat rendahnya harga komoditas perkebunan selama ini juga secara langsung dirasakan dampaknya oleh pedagang kecil di pasar teluk kuantan.
” Sekarang kami hanya bisa menjual satu sampai dua lembar pakaian saja sehari, itupun kadang tidak ada, sementara kami hidup dan membiayai kehidupan rumah tangga kami dari berjualan pakaian ini,” katanya.
Di harapkan kepada pemerintah daerah untuk lebih memprioritaskan bidang perkebunan dan pertanian yang karena masyarakat Kuansing khususnya, banyak menggantungkan hidup bidang perkebunan dan pertanian. ” kalau dapat program pupuk bersubsidi terus di tingkatkan, itu harapan kami,” demikian Prisma.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *