Harga Komoditas 2017 Diprediksi Membaik, Ini 3 Alasannya

Perusahaan jasa keuangan Citigroup Inc., memprediksi sebagian besar harga komoditas bakal lebih kuat pada 2017.

Tiga faktor utama yang mendasarinya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi global, masalah surplus pasokan yang akhirnya berkurang, dan alokasi dana lebih besar dari investor.

Pada 2016, komoditas mengalami reli di awal tahun karena munculnya tanda-tanda upaya menyeimbangkan pasar. Namun, reli terhenti pada paruh kedua setelah referendum Britania Raya menghasilkan keputusan British Exit atau Brexit, sehingga meningkatkan kekhawatiran prospek pertumbuhan global.

Namun demikian, permintaan komoditas global terbantu oleh peningkatan konsumsi AS dan China. Di sisi lain, pemotongan pasokan minyak, logam, dan hasil pertanian membuat harga kembali reli.

“Tidak seperti 2015, reli komoditas hanya sampai kuartal kedua, kemudian turun tajam akibat surplus pasokan yang tidak teratasi. Reli kali ini terlihat lebih berkelanjutan karena ada pengetatan pasar fisik,” papar Citigroup seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (5/12/2016).

Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun depan akan meningkat menjadi 2,7% diabandingkan 2016 sebesar 2,5%. Komoditas utama yang mengalami tren bullish dalam 6-12 bulan pada 2017 adalah minyak, tembaga, seng, dan gandum.

Sementara itu, komoditas bearish dalam jangka waktu yang sama adalah batu bara, bijih besi, emas, dan kedelai. Menurut Citigroup, ini menunjukkan peningkatan harga batu bara dan bijih besi pada 2016 yang sangat cemerlang merupakan sebuah kebetulan.

Bijih besi berhasil menanjak sekitar 80% sepanjang 2016 . Namun, harga diperkirakan bakal merosot ke US$50 per ton pada kuartal III/2017 karena pasar properti China yang mendingin.

Pada penutupan perdagangan Senin (5/12) di Dalian Commodity Exchange, harga bijih besi kontrak Mei 2017 meningkat 0,54% menuju 584 yuan atau US$84,87 per ton.

“Secara umum, kelebihan pasokan yang dipicu tingginya harga sejak 2010 akhirnya berangsur seimbang. Di sisi lain, belanja modal produksi komoditas mengalami penurunan,” tulisnya.

Bloomberg Commodity Index telah maju sebanyak 11% sepanjang 2016 berjalan akibat peningkatan harga bahan baku seperti seng, nikel, tembaga, minyak mentah Brent, dan gula.

Sebelumnya, indeks terus mengalami pemerosotan dalam lima tahun terakhir akibat perlambatan permintaan China dan pasokan komoditas yang berlebihan.

Meskipun proyeksi cenderung bullish, harga komoditas masih memiliki kemungkinan untuk bergerak volatil. Faktor yang memengaruhinya ialah upaya pasar menyeimbangkan suplai dan permintaan, serta perkembangan kebijakan China sebagai konsumen komoditas terbesar di dunia.

Kesepakatan OPEC untuk memangkas produksi minyak mentah menjadi salah satu katalis positif bagi harga komoditas. Pasalnya, minyak merupakan komoditas strategis yang berpengaruh pada setiap lini perdagangan.

Akhir bulan lalu, OPEC melakukan kesepakatan pemangkasan produksi pertama sejak delapan tahun terakhir. Jumlah suplai yang akan dipotong sebesar 1,2 juta barel per hari dan akan dilakukan mulai Januari 2017.

Pada perdagangan Senin (5/12) pukul 17:53 WIB harga minyak WTI kontrak Januari 2017 berada di posisi US$52,22 per barel, naik 1,04%. Sementara itu, minyak Brent kontrak Februari 2017 bertengger di US$55,13 per barel, meningkat 1,23%.

Rerata harga minyak Brent, lanjut Citigroup, diperkirakan naik menjadi US$60 per barel pada tahun depan karena pasar yang lebih seimbang.

Sementara itu, kemenangan Donald Trump dalam sebagai Presiden AS bakal meningkatkan kebijakan fiskal dan pembangunan infrastruktur, sehingga menaikkan proyeksi penyerapan komoditas logam.

Tembaga misalnya, akan mengalami peningkatan 7% pada 2017 menjadi US$5.575 per ton bahkan ada peluang harga dapat mencapai US$6.000 per ton.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/12) di bursa London Metal Exchange, harga tembaga naik 0,54% menuju US$5.760 per ton. Ini menandakan harga sudah meningkat 22,46% sepanjang tahun berjalan.

Namun, risiko utama yang dapat terjadi bagi komoditas ialah prospek pertumbuhan ekonomi Paman Sam yang mengerek dolar AS dan potensi tumbulnya ketegangan seperti perang dagang. Peningkatan dolar dapat membuat harga komoditas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *