Faktor The Fed, IHSG dan Rupiah 3 Maret Melemah Tipis

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dan mata uang rupiah mengalami pelemahan tipis pada akhir pekan seiring dengan tekanan dari sentimen hawkish Federal Reserve.

Lanjar Nafi, Equity Technical Analyst dari Reliance Securities mengatakan, pada akhir pekan Investor cenderung melakukan aksi profit taking seiring dengan pelemahan mayoritas bursa di Asia.

Tekanan eksternal yang mendominasi ialah spekulasi Gubernur Federal Reserve Janet Yellen yang siap menimbang peningkatan suku bunga. Pasar masih menunggu pidato para pejabat The Fed pada Jumat (3/3) waktu setempat mengenai arah Federal Open Market Committee (FOMC) Rabu (15/3).

Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (3/3), IHSG ditutup terkoreksi 0,32% sebesar 17,04 poin ke level 5.391,21. Pelemahan IHSG mengekor mayoritas bursa Asia Pasifik yang ditutup di zona merah.

Sepanjang pekan ini, IHSG naik 0,1% atau sebesar 5,31 poin dari Jumat (24/2 sebelumna di level 5.385,9. Adapun secara year to date (ytd), indeks meningkat 1,78%.

Investor asing membukukan capaian aksi beli bersih senilai Rp44,2 miliar kemarin, sehingga net buy sepekan mencapai Rp122,62 miliar. Sepanjang tahun berjalan, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,57 triliun.

“IHSG pun menutup pekan dengan pelemahan yang dipimpin sektor konsumer dan pertanian. Investor cenderung bersikap waspada menyambut awal pekan depan dengan melakukan aksi ambil untung mingguan,” ujarnya dalam riset, Jumat (3/3/2017).

Sementara dari dalam negeri, investor IHSG cukup optimis seiring kedatangan Raja Salman dengan harapan kesepakatan perjanjian investasi di Indonesia. Sentimen tersebut juga mampu membuat nilai tukar rupiah terapresiasi.

Pada pekan depan, Lanjar memprediksi, pergerakan indeks global cenderung berfluktatif. Aksi tunggu investor mengenai beberapa kebijakan moneter yang dikeluarkan Bank Sentral di sejumlah negara menjadi salah satu faktor pemicu. Data PDB zona Eropa dan Jepang turut mewarnai sentimen terhadap IHSG, di samping data Inflasi, neraca perdagangan, dan komposisi pertumbuhan import-ekspor di Tiongkok.

Adapun sentimen dari dalam negeri yang diperhatikan investor di antaranya ialah data cadangan devisa yang perkiraan naik ke level US$117,2 miliar dari US$ 116,9 miliar, penjualan eceran dengan proyeksi turun ke level 10,38% dari 10,5%, dan tingkat keyakinan konsumen.

Secara teknikal pergerakan IHSG pekan depan cenderung terkonsolidasi seperti pada minggu ini. Diperkirakan di awal pekan depan tekanan bearish masih cenderung terlihat dengan range pergerakan 5.330-5.400.

Saham-saham yang dapat diperhatikan untuk pekan depan diantaranya AKRA dengan support resistance Rp6.000-Rp6.725, ANTM dengan support resistance Rp740-Rp830, JPFA dengan support resistance Rp1.600-Rp1.960, PGAS dengan support resistance Rp2.700-Rp3.000, serta MPPA dengan support resistance Rp1.200-Rp1.335.

Sementara itu, pergerakan mata uang rupiah dinilai masih positif kendati sentimen hawkish Federal Reserve perihal pengerekan suku bunga AS pada pertengahan Maret 2017 semakin meninggi.

Rupiah mengakhiri perdagangan Jumat (3/3) dengan pelemahan sebesar 0,19% atau 26 poin ke posisi Rp13.383 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.397 – Rp13.365 per dolar AS. Kurs tengah dipatok Rp13.375 per dolar AS.

Artinya dalam sepekan ini rupiah melemah 52 poin atau 0,39%. Pelemahan ini seiring dengan indeks dolar AS yang tumbuh 0,9 poin atau 0,98% menuju 102,08 pada pukul 16:51 WIB.

Sepanjang 2017, mata uang Garuda masih meningkat 0,67%. Tahun lalu, rupiah tumbuh 2,28% menjadi Rp13.473 per dolar AS.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *