Busang Pusat Komoditi Kakao Terbesar

Meskipun keberadaan komoditi sawit tengah naik daun, namun warga di Kecamatan Busang tidak terpengaruh akan hal tersebut. Masyarakat setempat tetap menggantungkan hidup dengan komoditi kakao. Dari data yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim, seribu hektar lebih perkebunan kakao tumbuh subur di Busang. Hampir semua desa masih mengandalkan kakao sebagai komoditi unggulan. Seperti halnya desa Long Bentuk, Long Lees, dan Long Nyelong.

“Pada panen raya 2015 lalu, warga Busang bisa memperoleh satu miliar sekali panen,” ujar Kadisbun, Baharududdin Ackmadi didampingi Kepala Bidang Produksi, Kasianto.

Jumlah ini akan lebih besar jika warga setempat menggunakan tanaman yang sudah diperbaharui. Baik sambung batang maupun sambung pucuk. Saat ini, warga masih mengandalkan tanaman hibrida program pemerintah terdahulu.

“Kita berusaha akan memperbaiki varietas atau jenis kakao nya. Sehingga, hasil yang didapatkan lebih maksimal lagi dari saat ini,” kata Kasianto.

Seperti halnya Kecamatan Karangan. Beberapa desa disana sudah meninggalkan program hibrida dan beralih kepada sambung batang dan pucuk. Tidak hanya itu, warga juga sudah memanfaatkan pencegah hama handal dan produksi tanaman. Pada tahap pertama, menggunakan kode S1 dan S2. Dengan obat ini, produksi kakao semakin meningkat dan tanaman tahan akan penyakit. Hasilnya, untuk 25 buah, bisa mendapatkan satu kilo kakao kering bersih.

Kemudian, pada tahap kedua, petani kembali mencoba penemuan baru yakni MCC 01 dan 02. Hasilnya, lebih istimewa dari kode S1 dan S2. Isi dalam sangat besar satu kilo kering bersihnya hanya membutuhkan 14 biji.

“Jadi semuanya sudah diterapkan di kecamatan Karangan. Baik cara tanam baru maupun penggunaan obat handal. Hanya saja, Busang lebih banyak perkebunan kakao nya ketimbang Karangangan. Saat ini Karangan hanya ada sekitar 500 hektar lebih saja. Dua hektar sudah diperbaiki dan, tiga hektar lagi dlam tahap proses,” jelasnya.

Tidak hanya dua kecamatan tersebut yang masih bertahan mengembangkan kakao, beberapa kecamatan lainnya juga masih mengandalkan kakao. Seperti halnya Kaliorang, Sangkulirang dan Teluk Pandan. Namun, hanya segelintir desa saja yang menerapkan hal itu. Selebihnya sudah beralih kepada perkebunan kelapa sawit.

“Bahkan ada, kakao yang sudah mulai tidak produktif lagi, disulam dengan sawit. Seharusnya, kembali dilanjutkan dengan menanam kakao. Jika tidak mengerti atau terkendala bibit dan sebagainya, silahkan laporkan kepada kita. Kita akan bantu. Karena memang, kita tengah fokus mengembangkan hal tersebut. Karena jangan sampai, sawit merupakan segalanya bagi masyarakat dan mengabaikan komoditi menjanjikan lainnya,” katanya.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *