Bawal Bintang Jadi Unggulan Ikan Budidaya Laut

Bawal bintang adalah salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya, yang berasal dari budidaya air laut.

Selain Kakap Putih dan Kerapu, Bawal bintang mampu memenuhi kebutuhan pasar yang masih terbuka luas. Terlebih kelebihan dari Bawal bintang ini adalah masa budidaya yang lebih pendek, yaitu 6 bulan, dan juga dijual dalam kondisi mati sehingga mempermudah penanganan pada saat panen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung telah berhasil mengembangkan percontohan budidaya atau demonstrasi farming (demfarm) ikan bawal bintang dengan hasil cukup memuaskan.

Dari dua titik demfarm, yaitu di Ringung dan Tanjung Putus, Pesawaran, telah berhasil dipanen kurang lebih 25 ton bawal bintang.

“Yang menggembirakan adalah budidaya ini dilakukan oleh 20 orang nelayan pembudidaya yang tergabung dalam dua kelompok budidaya. Sehingga, membuktikan bahwa perikanan budidaya dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan sekaligus menyerap tenaga kerja,” katanya.

Budidaya laut atau marikultur merupakan usaha perikanan budidaya yang didorong untuk dikembangkan.

Menurut Slamet, potensi laut Indonesia masih cukup luas serta sejalan dengan upaya pemerintah menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Komoditas laut lainnya, seperti kakap putih dan kerapu juga akan terus dikembangkan. Bahkan di BBPBL Lampung ini juga telah dikembangkan komoditas cobia dan teripang. Di samping juga komoditas ikan hias air laut, seperti kuda laut, blue devil, dan clown fish,” ujar Slamet.

Slamet menambahkan hal ini sesuai arahan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang mendorong perikanan budidaya berkelanjutan, yang mendukung kemandirian, serta memiliki daya saing di pasar global.

“Maka sistem budidaya yang dikembangkan adalah budidaya yang efisien dalam penggunaan pakan, memperhatikan padat tebar, dan ramah lingkungan,” katanya.

Slamet menambahkan saat ini pemerintah juga lebih memfokuskan program pada budidaya perikanan kemasyarakatan.

Menurutnya, anggaran perikanan budidaya yang digunakan dan langsung menyentuh kepada pembudidaya mencapai 80,04 %.

“Jadi yang diutamakan adalah masyarakat dan stakeholder perikanan budidaya,” ujar Slamet.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *