APKAI Optimis Indonesia Produsen Kakao Terbesar di Dunia Tahun 2025

Dalam pertemuan dan diskusi tentang kakao yang digelar di Jakarta minggu ini, Ketua Umum Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) Arif Zamroni menargetkan tahun 2025 Indonesia akan menjadi produsen kakao nomor satu di dunia. Hal ini akan mengalahkan Pantai Gading yang saat ini masih menjadi produsen nomor satu.

Guna mewujudkan target tersebut, Arif Zamroni meminta pemerintah melanjutkan program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao, karena program ini dinilai sangat membantu petani dalam meningkatkan produksi kakao sampai satu ton per hektar. Sebelum ada Gernas Kakao, produksi kakao petani hanya mencapai 200- 300 kg per hektar, namun setelah program ini digulirkan pemerintah sejak tahun 2009 meningkat signifikan. Arif menjelaskan, produksi biji kakao Indonesia kini mencapai 500 ribu ton per tahun, dan 87 persen diantaranya dihasilkan oleh perkebunan rakyat.

Daerah sentra kakao seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo serta daerah lainya di luar pulau Sulawesi  dengan luas lahan satu juta hektar dengan produksi  sebesar 500 ribu ton per tahun.

Yang masih menjadi kendala saat ini adalah  Permentan Nomor 67 tahun 2014 yang mensyaratkan kakao wajib fermentasi  dimana Permentan ini akan mulai berlaku pada bulan Mei 2016 ini. Para petani mengeluhkan hal ini karena dipasaran perbedaan antara harga kakao non fermentasi dan kakao fermentasi sangat tipis. Saat ini harga kakao di pasar global sekitar Rp 36.000 per kilogram. Sementara harga kakao di tingkat petani hanya berada di kisaran Rp 22.000 atau Rp 25.000 per kg.

Perbedaan harga yang terlalu jauh tersebut membuat petani kurang bersemangat melakukan fermentasi kakao. “Kami menuntut pemerintah untuk mendukung petani agar perbedaan antara kakao fermentasi dengan kakao basah lebih dari Rp 3.000 per kg,” ujar Arif dikutip dalam laman infopublik.id, Jumat (5/2).

Perbedaan antara harga kakao basah dan kakao hasil fermentasi di pasaran seringkali tidak jelas dan masih sangat tergantung tengkulak. Padahal kakao merupakan komoditas andalan setelah kelapa sawit dan karet alam. Bahkan dari tiga komoditas andalan perkebun ini, hanya kakao yang harganya relatif stabil dari guncangan krisis ekonomi global.

Karena itu, petani kakao berharap pemerintah mengeluarkan sertifikasi kakao fermentasi yang langsung dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah dan bukan oleh perusahaan, lembaga swadaya masyarakat ataupun negara lain. Diharapkan dukungan pemerintah ini akan membantu meningkatkan produksi kakao dalam jangka panjang dan Indonesia benar-benar bisa menjadi Negara penghasil kakao nomor satu di dunia.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *