70% Tuna Indonesia Diekspor ke Thailand Hingga Jepang

Produksi ikan tuna Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Setiap tahun Indonesia memproduksi ikan tuna hingga 613.000 ton atau 11% dari potensi produksi ikan tuna dunia.

Namun sayangnya, produksi yang besar tidak diimbangi oleh konsumsi dan permintaan di dalam negeri. Sebanyak 70% produksi ikan tuna Indonesia justru diekspor ke Thailand, Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

“Dari total produksi, ekspornya 70% sisanya diserap di pasar dalam negeri. Paling besar pasar ekspor tuna kita adalah Amerika dan Jepang,” ungkap Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saut P Hutagalung, Rabu (10/4).

Saut menuturkan, setidaknya ada 3 negara yang menjadi tujuan ekspor ikan tuna asal Indonesia. Indonesia menghasilkan berbagai macam jenis ikan tuna seperti tuna sirip kuning, sirip biru, cakalang, tuna mata besar, dan strip marlin.

“Ekspor ikan tuna ke Jepang misalnya angka kita mencapai US$ 170 juta, kemudian kalau ke Amerika US$ 115 juta, dan Uni Eropa US$ 180 juta,” imbuhnya.

Menurut Saut, meskipun potensi konsumsi ikan tuna di Indonesia cukup besar hingga kini angka konsumsi ikan tuna segar masih minim. Saut menjelaskan masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi ikan tuna kalengan dibandingkan ikan tuna segar.

“Ikan tuna tidak terlalu banyak kita konsumsi kecuali ikan tuna kaleng. Kalau tuna beku ataupun tuna segar jarang kita konsumsi. Oleh sebab itu tuna segar kita adalah salah satu eksportir terbesar di dunia. Karena potensi konsumsi ikan tuna di dalam negeri tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Data ekspor ikan tuna Indonesia ke berbagai negara pada 2009 hingga 2013 terus meningkat. Tahun 2009 ekspor tuna mencapai US$ 352 juta dengan volume 131.550 ton, tahun 2010 mencapai US$ 383 juta dengan volume 122.450 ton, tahun 2011 mencapai US$ 498 juta dengan volume 141.774 ton, tahun 2012 mencapai US$ 749 juta dengan volume 201.160 ton, dan di tahun 2013 mencapai US$ 764 juta dengan volume 209.072 ton. Sedangkan di tahun 2014 nilai ekspor tuna bisa mencapai US$ 895 juta.

Pihaknya juga sedang menyiapkan aturan soal kewajiban ekspor hasil perikanan terutama produk ikan tuna. Saut menyatakan kebijakan ini dilakukan untuk mendukung nilai tambah produk ekspor ikan tuna yang saat ini sebagian besar diekspor dalam bentuk mentah.

“Aturannya sedang kami buat. Jadi yang akan kita ekspor ke depan terutama ikan tuna cakalang ini sudah dimasak. Jadi bukan gelondongan. Minimal daging sudah direbus,” kata Saut.

Saut menjelaskan, selama ini Indonesia mayoritas mengekspor ikan tuna cakalang dalam bentuk bahan mentah. Sedangkan hanya sebagian kecil pelaku usaha yang sudah mengekspor dalam bentuk olahan.

“Kebijakan eksportasi ikan tuna olahan sebenarnya sudah mulai dilakukan pelaku usaha tahun 2009 hingga 2010 tetapi hanya sedikit kemauan masing-masing pelaku usaha. Tetapi kita sudah berkali-kali untuk mengimbau berinvestasi di bidang perebusan. Ke depan arahnya lebih baik mengekspor tetapi terlebih dahulu diolah di dalam negeri,” tuturnya.

Pihaknya mencatat, saat ini baru ada 11 industri pengolahan ikan di Indonesia dengan kapasitas yang cukup besar. Dengan demikian, ikan cakalang mentah dapat diolah terlebih dulu di sejumlah pabrikan tersebut sebelum dikirim ke mancanegara.

“Kita mulai kendalikan ekspor ikan tuna segera dengan sistem pengalengan untuk tuna albacor, bluefin, dan cakalang. Cara lain adalah kita kendalikan boleh ekspor kalau sudah direbus,” jelasnya.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *