5 Hal Yang Mempengaruhi Risiko Investasi Di Pasar Komoditas Berjangka

Salah satu kriteria pertimbangan dalam menjalankan kegiatan investasi ataupun trading adalah keseimbangan antara risiko dan imbal hasil (return). Sebelum mengambil keputusan terkait investasi apa yang akan diambil, seorang investor harus mengetahui apakah imbal hasil dari investasi tersebut sudah sepadan dengan risiko yang ada.

Ketika sedang melakukan analisis, tak jarang investor menganggap tingkat risiko investasi lain lebih rendah daripada risiko di dalam pasar komoditas berjangka. Tentu saja anggapan seperti itu tidak dapat dibuat tanpa dasar. Berikut beberapa penjelasan terkait hal-hal yang mampu mempengaruhi risiko di pasar komoditas.

1. Leverage

Leverage adalah sebuah strategi investasi dengan menggunakan sejumlah dana pinjaman dari broker kepada investor untuk digunakan trading. Leverage merupakan salah satu risiko terbesar dalam pasar komoditas berjangka. Akan tetapi, leverage dapat menjadi salah satu fasilitas menguntungkan bagi trader yang ingin berpartisipasi di pasar berjangka, tetapi hanya memiliki dana dalam jumlah kecil.

Dalam trading komoditas di pasar berjangka, leverage bisa ditawarkan mulai 90 hingga 95 persen. Hal ini dapat diartikan bahwa seorang trader bisa berinvestasi kontrak berjangka hanya dengan menyetorkan 10 persen dari nilai kontrak sebenarnya. Dana sebesar 10 persen dari nilai kontrak itu nantinya akan menjadi Margin, yang apabila Margin itu habis maka berarti dana trader sudah hangus.

Karena sebagian besar trader memanfaatkan fasilitas leverage ini, sangat mungkin para trader tersebut menanggung loss yang besar hingga melebihi dana yang dimilikinya. Untuk membatasi risiko ini, trader dapat mengaplikasikan money management yang tepat dengan menggunakan stop loss order. Stop loss order di desain untuk membatasi loss investor dan setiap trader dapat menentukan sendiri level stop loss-nya sesuai analisa dan kondisi pasar.

2. Likuiditas

Likuiditas menggambarkan sejauh mana suatu aset investasi bisa cepat dibeli atau dijual di pasar tanpa mempengaruhi nilai aset tersebut. Dalam pasar yang likuiditasnya tinggi, suatu aset yang ditawarkan penjual akan cepat mendapatkan pembeli, dan demikian pula sebaliknya, pembeli yang sedang mencari aset tertentu akan cepat mendapatkan aset tersebut. Kondisi likuiditas ini bukan hanya berbeda-beda untuk setiap jenis aset di pasar komoditas berjangka, melainkan juga bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Masalah akan muncul ketika harga futures suatu komoditas bergerak naik atau turun, tetapi saat itu tidak ada pembeli kontrak berjangka atau tidak ada penjual kontrak berjangka yang diinginkan.

Karena tingkat likuiditas dapat berdampak pada investasi di pasar komoditas berjangka, maka cobalah untuk memperhatikan dua indikator penting dari likuiditas. Dua indikator penting untuk mengetahui tingkat likuiditas pasar berjangka adalah volume trading dan open interest. Open interest ini merupakan sebuah konsep yang harus dipahami oleh trader karena biasanya digunakan untuk mengkonfirmasi tren dan pembalikan arah tren pada kontrak berjangka.

 

3. Daily Settlement

Pada pasar derivatif, Daily Settlement adalah harga rata-rata perdagangan kontrak yang dihitung dari harga pembukaan dan penutupan setiap hari trading, sekaligus merupakan harga yang digunakan untuk menentukan profit atau loss. Settlement Price ini dinilai penting karena dapat menentukan apakah seorang trader memerlukan tambahan Margin atau tidak. Harga tersebut umumnya diatur oleh suatu prosedur tertentu, tergantung pada bursa atau pasar komoditas berjangka dan instrumen yang ditradingkan.

Di samping itu, Settlement Price seringkali berdasarkan pada rata-rata harga kontrak selama periode spesifik tertentu seperti pada saat trading atau menggunakan harga pembukaan dan penutupan sebagai bagian kalkulasi, meski tidak semua jenis bursa menggunakan formula sama. Harga pembukaan ini mencerminkan harga pada komoditas tertentu saat awal sesi perdagangan dalam suatu bursa. Sedangkan harga penutupan adalah berdasarkan rata-rata harga akhir sesi perdagangan hari itu.

Daily Settlement adalah sebuah pengendali risiko di pasar komoditas berjangka, dapat menghindarkan terkena loss lebih besar dan membantu menurunkan risiko pada berakhirnya perdagangan. Akan tetapi, Daily Settlement juga memberikan efek negatif pada trader karena loss trader di pasar komoditas berjangka ini harus diselesaikan di akhir sesi perdagangan.

4. Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi

Institusi yang bertugas untuk mengatur perdagangan pasar komoditas berjangka di Indonesia adalah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Dalam menjalankan tugas pokok tersebut, BAPPEBTI mempunyai wewenang untuk menerbitkan izin usaha untuk Bursa Berjangka, broker atau pengelola sentra dana berjangka. Selain itu, badan ini memiliki kekuasaan untuk mengesahkan Peraturan dan regulasi bursa berjangka serta kontrak berjangka yang akan diperdagangkan di bursa.

Di samping itu, BAPPEBTI juga mengharuskan pihak bursa atau pialang berjangka untuk mencantumkan risiko dalam Dokumen Pemberitauan Adanya Risiko (Risk Disclosure Statement). Dokumen ini berisi tentang informasi untuk calon investor terkait dengan beberapa risiko-risiko pada trading kontrak berjangka dan meminta investor untuk mempertimbangkan baik-baik apakah kondisi, pengalaman, sumber finansial sudah siap untuk menanggung kerugian dalam melakukan perdagangan kontrak berjangka.

5. Pialang Berjangka (Broker)

Investor tidak bisa menjalankan kontrak berjangka secara langsung di bursa berjangka misalnya Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX), karena harus melalui anggota bursa berjangka yang disebut sebagai pialang berjangka atau broker. Pialang berjangka adalah suatu perusahaan atau badan usaha berbadan hukum dengan kegiatan utamanya adalah menjadi perantara antara investor di pasar komoditas berjangka. Pialang berjangka ini memiliki peranan untuk meneruskan order dari investor dan trader ke bursa berjangka.

Sangat penting untuk diperhatikan oleh investor bahwa perusahaan-perusahaan pialang berjangka penipu yang tidak jelas izinnya masih sangat banyak bertebaran. Oleh karena itu, sebaiknya investor memeriksa legalitas kegiatan pialang tersebut dan mengecek apakah wakil pialang berjangka sudah mempunyai ijin dari BAPPEBTI.

Setelah itu, investor diharapkan juga melihat perjanjian amanat apa sudah sesuai dengan peraturan BAPPEBTI atau belum. Apabila sudah melaksanakan pengecekan serta memahami produk dari pialang berjangka tersebut, maka sudah bisa memulai untuk mendaftar ke pialang tersebut, lalu kemudian melakukan investasi di pasar komoditas berjangka.

Post Author: Agio Marietta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *